"Logos veritas Scientia"

Sabtu, 21 Februari 2026

“Tuhan Dekat Tatkala Aku memanggil” Ratapan 3:49-57



Ibadah Minggu I Pra-Paskah (Minggu Pertama dalam Masa Prapaskah

A.    Pendahuluan

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan,

Ada masa dalam hidup ketika air mata tidak berhenti mengalir. Kita berdoa, tetapi langit terasa tertutup. Kita berseru, tetapi seolah-olah tidak ada jawaban. Hati terasa berat, situasi tidak berubah, dan kita mulai bertanya: Apakah Tuhan masih dekat? Apakah Ia masih mendengar? Apakah Tuhan masih melihat air mataku?

 Kitab Ratapan lahir dari situasi seperti itu. Yerusalem hancur. Bait Allah terbakar. Bangsa yang dahulu disebut umat pilihan kini tercerai-berai. Tidak ada kemuliaan, tidak ada keamanan, tidak ada kepastian. Yang tersisa hanyalah reruntuhan, tangisan, dan pertanyaan besar tentang kehadiran Allah.

 Namun di tengah kehancuran itu, muncul satu suara yang berbeda. Suara seorang yang berkata:

“Aku memanggil nama-Mu, ya TUHAN, dari lobang yang paling dalam… Engkau mendekat pada hari aku berseru; Engkau berkata: ‘Jangan takut!’”

Inilah kabar yang mengejutkan:

Tuhan tidak jauh ketika kita berseru dari kedalaman.

Justru di sana di titik paling rendah, di saat paling gelap Ia mendekat.

 Tema kita hari ini, “Tuhan Dekat Tatkala Aku Memanggil,” bukanlah janji bahwa masalah langsung hilang. Bukan juga jaminan bahwa penderitaan segera berakhir. Tetapi ini adalah deklarasi iman bahwa di tengah air mata yang tak berhenti, Allah tetap mendengar, tetap hadir, dan tetap berbicara: “Jangan takut.”

Hari ini kita akan melihat bagaimana:

  • Seruan dari kedalaman menjadi titik balik iman,
  • Kehadiran Allah lebih kuat daripada rasa takut,
  • Dan pengharapan lahir bukan karena keadaan berubah, tetapi karena Allah mendekat.

 B.     Konteks Historis dan Teologis

Pada zamannya, kitab Ratapan ditulis dalam konteks kehancuran Yerusalem dan pembuangan yang menyebabkan trauma kolektif bagi bangsa Israel. Penderitaan yang digambarkan dalam teks ini merupakan refleksi dari kehilangan identitas nasional, sosial, dan spiritual. Namun, meskipun menghadirkan gambaran duka yang mendalam, teks ini juga menekankan bahwa dalam penderitaan sekalipun, Tuhan tetap hadir. Hal ini sejalan dengan prinsip-prinsip pembacaan kontekstual, di mana konteks sosial dan historis tidak diabaikan, melainkan dijadikan dasar untuk memperoleh makna dan apresiasi terhadap pesan ilahi.

Konteks Ratapan 3

Ratapan 3 memiliki karakter yang cukup berbeda dibandingkan dua pasal sebelumnya. Pasal ini terdiri dari enam puluh enam ayat, namun panjang keseluruhannya kurang lebih sama karena setiap ayat lebih singkat. Sejak awal sudah terasa perbedaannya, karena pasal ini dibuka dengan pernyataan yang sangat personal: “Akulah orang yang telah melihat penderitaan.” Fokusnya bukan lagi langsung pada kota, melainkan pada seorang individu yang berbicara dari kedalaman pengalaman pribadinya.

Di dalamnya kita menemukan kontras yang tajam: dari keputusasaan menuju harapan, dari perasaan ditinggalkan Allah menuju keyakinan akan keselamatan-Nya. Ratapan 3 memadukan kegelapan dan terang dalam satu tarikan napas. Ada ayat-ayat yang begitu suram, tetapi di tengahnya muncul pengakuan iman yang sangat kuat dan penuh pengharapan.

Salah satu perdebatan utama dalam penafsiran pasal ini adalah mengenai identitas “pria” yang berbicara. Ada yang mengusulkan bahwa ia adalah nabi Yeremia, mengingat beberapa kemiripan pengalaman seperti pernah dilemparkan ke dalam sumur. Ada pula yang berpendapat bahwa ia mungkin seorang raja Yehuda seperti Yoyakhin atau Zedekia. Sebagian melihatnya sebagai personifikasi Sion dalam bentuk laki-laki, atau sebagai “manusia universal” yang mewakili seluruh bangsa.

Menurut Adele Berlin, tokoh “pria” ini dapat dipahami sebagai pasangan dari suara perempuan kota dalam Ratapan 1. Jika pasal pertama menghadirkan Yerusalem sebagai perempuan yang meratap, maka pasal ketiga menghadirkan suara laki-laki sebagai penyeimbangnya.[1] Bahkan, tokoh ini dinilai memiliki kemiripan dengan figur Ayub seseorang yang bergumul dengan penderitaan yang tampaknya datang dari tangan Tuhan sendiri

Sementara itu, F. W. Dobbs-Allsopp melihat adanya keseimbangan gender yang disengaja: suara laki-laki di pasal 3 melengkapi sekaligus mengontraskan suara perempuan Sion. Penderitaan tidak hanya menimpa satu kelompok; ia melanda laki-laki dan perempuan, seluruh komunitas tanpa kecuali.[2]

Menariknya, dalam Ratapan 3 terjadi pergeseran kata ganti dari “aku” menjadi “kami” dan “kita”. Meski demikian, Dobbs-Allsopp berpendapat bahwa tetap ada satu pengarang, sebagaimana juga ditemukan dalam beberapa mazmur ratapan (misalnya Kitab Mazmur 44; 74; 123). Dengan demikian, pengalaman pribadi sang “pria” perlahan-lahan melebur menjadi pengalaman bersama. Suaranya berubah menjadi suara kolektif dari “aku” menjadi “kita”.

Apakah mungkin pembicara ini adalah Yeremia? Memang ada kemiripan dengan pengalaman yang dicatat dalam Kitab Yeremia, khususnya ketika ia dilemparkan ke dalam sumur. Namun detailnya tidak sepenuhnya cocok, dan Ratapan 3 tidak mengaitkan penderitaan tokohnya dengan tugas kenabian seperti dalam “Pengakuan Yeremia”. Selain itu, dalam Ratapan sering muncul kesan bahwa Tuhan sendiri melawan sang pembicara sesuatu yang dalam kitab Yeremia lebih kompleks dan tidak identik.

Karena itu, banyak penafsir memahami tokoh ini sebagai seorang laki-laki yang selamat dari kehancuran Yerusalem dan menyaksikan langsung reruntuhan kota itu. Ia bukan sekadar simbol bangsa, tetapi juga pribadi yang memiliki luka personal diejek oleh bangsanya sendiri dan dikejar oleh musuh. Namun pada saat yang sama, penderitaannya mencerminkan trauma komunal seluruh umat.

Struktur pasal ini pun unik. Ratapan 3 menggunakan pola akrostik alfabet Ibrani, tetapi berbeda dari pasal lain: setiap tiga baris dimulai dengan huruf yang sama. Pola ini memberi kesan intens dan mendesak seolah-olah pembaca diajak menyelami penderitaan itu secara mendalam dan sistematis, dari awal sampai akhir, dari “A sampai Z”. Seperti kamera yang memperbesar satu wajah, kisah pribadi ini menjadi jendela untuk melihat luka seluruh bangsa.

Tema-temanya juga memiliki kemiripan dengan pergumulan dalam Kitab Ayub dan sejumlah mazmur ratapan, seperti Mazmur 69 dan 102. Dalam Mazmur 102, misalnya, penderitaan pribadi berpadu dengan penderitaan Sion, sebelum kembali lagi kepada pergumulan individu. Pola yang sama terlihat dalam Ratapan 3: pengalaman personal dan pengalaman komunal saling berjalin.

Dengan demikian, Ratapan 3 bukan sekadar curahan hati seorang individu. Ia adalah suara yang berdiri di antara reruntuhan, menyuarakan trauma pribadi sekaligus luka bangsa. Dan melalui struktur akrostiknya yang teratur, pembaca diajak menelusuri seluruh spektrum emosi dari kehancuran terdalam hingga cahaya harapan yang perlahan muncul.

 

C.     Eksegesis Teks Ratapan 3:49-57

Teks Ratapan 3:49-57 merupakan bagian dari Ratapan yang menggambarkan kondisi hancur karena kehancuran Yerusalem pada masa pembuangan. Dalam teks ini tersaji keberanian seorang individu yang menyatakan penderitaannya melalui ratapan yang jujur sekaligus menyusul seruan kepada Tuhan dalam keadaan putus asa.

a.     Analisis Ayat 49-51: Penderitaan yang Tak Terhenti

Pada ayat 49–51 kita melihat gambaran penderitaan yang begitu dalam dan tak terhenti. Penulis melukiskan dirinya sebagai seseorang yang air matanya terus mengalir tanpa henti, tanpa jeda, sampai Tuhan sendiri memandang dari surga dan melihat keadaannya. Ini bukan sekadar ungkapan kesedihan biasa. Ini adalah jeritan jiwa yang merasa hancur, terasing, dan kehilangan pegangan setelah bangsa itu jatuh. Segala sesuatu yang dahulu menjadi kebanggaan identitas, budaya, bahkan kehidupan rohani seakan runtuh, dan harapan pun tampak semakin menjauh.

Namun di tengah derasnya air mata itu, tersembunyi suatu iman yang bertahan. Tangisan itu bukan tanda menyerah, melainkan bentuk penantian yang penuh pengharapan. Penulis bertekad untuk terus menangis sampai Allah bertindak. Seolah-olah setiap tetes air mata menjadi doa yang tidak terucapkan, sebuah seruan sunyi agar Tuhan turun tangan memulihkan Yerusalem yang telah dihancurkan dan mengumpulkan kembali umat yang tercerai-berai.

Air mata di sini bukan sekadar luapan emosi pribadi. Ia menjadi lambang penderitaan kolektif seluruh bangsa. Bahkan ketika ayat ini dapat dipahami sebagai ungkapan duka yang melampaui ratapan para perempuan Yerusalem, atau sebagai tangisan atas kehancuran kota-kota Yehuda, maknanya tetap mengarah pada satu hal: seluruh umat, tanpa terkecuali, turut merasakan luka yang sama. Laki-laki, perempuan, dan anak-anak semuanya terhimpit dalam penderitaan yang menyeluruh.

Karena itu, tangisan sang penyair bukan hanya miliknya sendiri. Ia menjadi suara bersama, suara satu pribadi yang berdiri di hadapan Allah sambil memikul beban seluruh umat. Dalam air mata itu ada pengakuan bahwa hanya Tuhan yang sanggup melihat, memahami, dan memulihkan. Dan justru di tengah ratapan itulah iman tetap menyala—iman yang percaya bahwa Allah tidak akan tinggal diam untuk selamanya.

b.     Analisis Ayat 52-54: Pengasingan dalam Kegelapan

Di ayat selanjutnya, penulis menggambarkan dirinya sebagai objek pengejaran dan penindasan:

"Musuh-musuhku memburu aku seperti burung tanpa alasan; mereka mencoba mengakhiri hidupku dalam lobang, mereka melempari aku dengan batu; air meluap atas kepalaku, aku berkata: 'Aku telah binasa!'"

Memasuki ayat 52–54, nada ratapan ini berubah menjadi kesaksian yang sangat pribadi. Penyair menggambarkan dirinya sebagai orang yang diburu tanpa alasan, seperti burung yang dikejar untuk ditangkap. Ia dijebak, dilempari, bahkan dilemparkan ke dalam lubang yang dalam, sehingga air meluap sampai ke atas kepalanya. Dalam keadaan itu ia hanya bisa berkata, “Aku telah binasa.” Gambaran ini begitu kuat seolah-olah maut sudah begitu dekat, napas hampir terhenti, dan tidak ada lagi jalan keluar.

Pengalaman ini mengingatkan kita pada kisah nabi yang pernah dipenjarakan dalam sumur berlumpur ditolak, dianiaya, dan hampir mati karena kesetiaannya menyampaikan firman Tuhan. Namun di sini, penderitaan itu bukan hanya kisah satu individu. Kesaksian ini dapat dibaca sebagai gambaran pengalaman kolektif umat, khususnya “sisa yang benar” mereka yang tetap bertobat dan berharap kepada Tuhan di tengah kehancuran.

Ungkapan tentang diburu, dijatuhkan ke dalam lubang, dan hampir tenggelam menyiratkan perasaan terpojok, terisolasi, dan seakan-akan ditinggalkan dari segala sumber pertolongan. Ini adalah pengalaman pengasingan dalam kegelapan bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin dan spiritual. Ketika seseorang atau suatu komunitas mengalami penindasan dan keterpinggiran, mereka sering merasa seperti berada di dasar lubang yang dalam, tanpa cahaya, tanpa pegangan, tanpa kepastian akan esok hari.

Namun justru di titik terdalam itulah suara iman sering lahir. Ketika manusia merasa sudah “binasa,” di situlah ia belajar berseru kepada Tuhan dengan kejujuran yang paling murni. Ayat-ayat ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak asing dengan pengalaman umat yang terhimpit. Ia mengenal jeritan mereka yang merasa tenggelam dalam arus penderitaan. Dan dari dasar lubang itulah, harapan akan pertolongan ilahi mulai bertunas.

c.     Analisis Ayat 55-57: Titik Balik Menuju Pengharapan

Pada ayat 55–57 terjadi perubahan teologis dan emosional yang sangat signifikan dalam struktur Ratapan 3. Setelah rangkaian gambaran tentang keterpurukan, ancaman kematian, dan rasa tercekik oleh penderitaan (ay. 52–54), teks beralih kepada seruan iman yang aktif:

“Aku memanggil nama-Mu, ya TUHAN, dari lobang yang paling dalam.
Engkau mendengar suaraku: ‘Janganlah tutup telinga-Mu terhadap keluh kesah dan teriakku.’ Engkau mendekat pada hari aku berseru; Engkau berkata: ‘Jangan takut!’”

Bagian ini menjadi titik balik dari deskripsi penderitaan menuju pengalaman kehadiran ilahi.

 1.     Pengakuan Diri dari Keterpurukan

Ungkapan “dari lobang yang paling dalam” (Ibrani: mibbôr taḥtiyyôt) bukan sekadar deskripsi geografis, melainkan metafora eksistensial. Dalam tradisi Perjanjian Lama, “lobang” sering melambangkan:

  • Dunia kematian (bdk. Mazmur 88:6)
  • Keterasingan total
  • Keputusasaan mendalam
  • Situasi tanpa harapan manusiawi

Yang penting di sini bukan hanya kondisi penderitaan, tetapi keputusan teologis sang penyair: ia memilih untuk berseru kepada TUHAN.

Kata kerja yang digunakan untuk “memanggil” memiliki rentang makna yang luas:

  • Berseru memohon pertolongan
  • Menyebut atau mengumumkan nama
  • Mengakui identitas dan karakter Allah

Dengan demikian, tindakan ini bukan sekadar doa spontan, tetapi tindakan iman yang sadar. Dalam budaya Israel, “nama” TUHAN mencakup:

  • Karakter-Nya (setia, adil, pengasih)
  • Reputasi-Nya dalam sejarah keselamatan
  • Kehadiran-Nya yang aktif
  • Kuasa dan otoritas-Nya

Memanggil nama TUHAN berarti mempercayakan diri sepenuhnya kepada siapa Allah itu.

Di sinilah awal pengharapan muncul: bukan karena keadaan berubah, tetapi karena orientasi hati berubah.

 Ungkapan itu menegaskan bahwa:

  • Tidak ada tempat yang terlalu dalam bagi Allah untuk mendengar.
  • Tidak ada keadaan yang terlalu gelap bagi Allah untuk mendekat.
  • Bahkan dari kondisi paling rendah sekalipun, doa tetap bisa naik kepada Tuhan.

Dengan kata lain:

Kedalaman penderitaan tidak membatasi jangkauan kasih dan kehadiran Allah.

 

2.     2. Respons Ilahi: Allah yang Mendengar dan Mendekat

Ayat 56–57 menegaskan dua tindakan Allah:

a.     Allah Mendengar

“Engkau mendengar suaraku…”

Di tengah pengalaman sebelumnya bahwa doa seakan-akan tertutup (bdk. Rat. 3:44), kini ditegaskan bahwa Allah tetap mendengar. Dalam teologi Perjanjian Lama, mendengar berarti:

  • Memperhatikan secara aktif
  • Mengakui relasi perjanjian
  • Bersiap untuk bertindak

Allah bukan hanya objek doa, tetapi Pribadi yang responsif.

b.     Allah Mendekat

“Engkau mendekat pada hari aku berseru…”

Kata “mendekat” menekankan relasi yang intim. Ini adalah bahasa kehadiran perjanjian. Dalam konteks kehancuran Yerusalem yang bisa ditafsirkan sebagai tanda bahwa Allah telah menjauh pernyataan ini sangat radikal: Allah ternyata tidak meninggalkan umat-Nya sepenuhnya.

 

3.   3. "Jangan Takut!” - Formula Teologis Pengharapan

Puncak bagian ini adalah pernyataan ilahi:

“Jangan takut!”

Ini adalah satu-satunya bagian dalam kitab Ratapan di mana Allah secara langsung dikatakan berbicara. Secara teologis, ini sangat penting.

Frasa ini memiliki akar kuat dalam tradisi penyataan Allah:

  • Kepada Abraham (Kej. 15:1)
  • Kepada Israel dalam pembebasan (Kel. 14:13)
  • Kepada para nabi dan umat dalam krisis

Dalam kerangka teologi “Imanuel” (Allah beserta kita), perintah “Jangan takut” bukan sekadar nasihat psikologis, melainkan deklarasi kehadiran ilahi.

Takut lenyap bukan karena situasi berubah, tetapi karena Allah hadir.

 Signifikansi Teologis : Ayat 55–57 menunjukkan bahwa:

  1. Penderitaan tidak menghalangi relasi dengan Allah.
  2. Doa tetap memiliki makna bahkan ketika terasa tidak dijawab.
  3. Kehadiran Allah lebih mendasar daripada perubahan keadaan.
  4. Pengharapan lahir dari relasi, bukan dari kondisi eksternal.

Dengan demikian, bagian ini menjadi titik balik dari keputusasaan menuju kepercayaan. Ratapan tidak berhenti pada keluhan, tetapi bergerak menuju keyakinan bahwa Allah tetap setia.

Di tengah “lobang terdalam,” suara iman masih dapat terdengar—dan Allah tetap menjawab.

 

D.    Refleksi Teologis dan Konteks Keliberasian

Perikop Ratapan 3:49–57 membawa kita masuk ke dalam permenungan yang dalam tentang hubungan antara penderitaan, pengakuan iman, dan kehadiran Allah. Teks ini memperlihatkan bahwa dalam dinamika iman, ratapan dan pujian bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua gerak rohani yang saling melengkapi. Justru melalui ratapan yang jujur, jalan menuju pengharapan dan pujian dibukakan.

a.     Esensi Ratapan dalam Iman Kristen

Ratapan adalah keberanian untuk berkata jujur di hadapan Tuhan. Ia adalah pengakuan bahwa hidup tidak selalu utuh; ada luka, ada kehilangan, ada kehancuran yang tidak bisa disangkal. Namun ratapan bukanlah tanda lemahnya iman. Sebaliknya, ratapan adalah tindakan iman itu sendiri karena di dalamnya kita tetap datang kepada Tuhan, bukan menjauh dari-Nya.

Sebagaimana ditegaskan oleh Dan Epp-Tiessen, kata-kata ratapan yang diucapkan dalam ibadah bersama memiliki daya yang hampir sakramental: ia membuka ruang bagi aliran kasih karunia Allah menghadirkan kekuatan, penghiburan, penyembuhan, dan pembaruan.[3] Dengan demikian, ketika gereja meratap, gereja sedang mengizinkan kasih karunia Allah bekerja di tengah luka. Ratapan menjadi jembatan antara penderitaan manusia dan belas kasihan ilahi.

b.     Pujian sebagai Tindakan Perlawanan dan Pengakuan Kedaulatan Allah

Di sisi lain, pujian muncul bukan sebagai penyangkalan atas realitas pahit, melainkan sebagai tindakan perlawanan iman. Di tengah dunia yang dipenuhi penderitaan, memuji Tuhan berarti menegaskan bahwa penderitaan bukanlah penguasa terakhir. Pujian mengarahkan kembali pandangan kita dari keterbatasan diri menuju kedaulatan Allah.

Epp-Tiessen juga menegaskan bahwa pujian memiliki kuasa untuk mengalihkan fokus kita dari diri sendiri kepada Tuhan. Dalam terang ini, pujian di tengah penderitaan bukanlah ilusi rohani, melainkan deklarasi iman: bahwa Allah tetap setia, tetap berdaulat, dan tetap bekerja, bahkan ketika kita belum melihat perubahan keadaan.

c.     Pergeseran dari Ratapan ke Pujian

Jika kita memperhatikan struktur banyak mazmur ratapan dan juga kitab Ratapan, kita akan menemukan pola yang berulang: dari jeritan yang dalam menuju pengakuan iman yang teguh. Tidak jarang, mazmur yang dimulai dengan keluh kesah justru diakhiri dengan pujian. Pola ini menunjukkan bahwa penderitaan bukanlah titik akhir perjalanan iman, melainkan ruang perjumpaan dengan Allah.

Perpindahan dari ratapan menuju pujian mengajarkan bahwa iman tidak berhenti pada pengakuan kegagalan atau kesakitan. Iman bertumbuh justru ketika kita berani mengakui kelemahan dan menemukan bahwa Tuhan mendekat di sana. Dalam pengakuan akan kerapuhan, kita mengalami kedekatan ilahi yang memulihkan.

d.     Hermeneutika Pembebasan dan Pendekatan Kontekstual

Dalam kerangka pembacaan kontekstual seperti yang dikembangkan oleh Gerald O. West melalui pendekatan Contextual Bible Study (CBS), Alkitab dibaca bukan hanya sebagai teks kuno, tetapi sebagai dialog hidup antara firman dan konteks umat masa kini.[4] Pembacaan ini melibatkan “pembaca biasa” bersama para penafsir, sehingga pengalaman sosial termasuk penindasan dan keterpinggiran menjadi bagian penting dalam memahami teks.

Dalam terang pendekatan ini, Ratapan 3:49–57 tidak hanya berbicara tentang pengalaman pribadi seorang penyair. Ia menjadi suara komunitas yang tertindas, yang terluka secara sosial, politik, dan spiritual. Ratapan mereka adalah ratapan kolektif. Dan di tengah konteks itulah pengakuan, “Engkau mendekat ketika aku berseru,” menjadi pernyataan yang revolusioner.

Artinya, bahkan dalam kelemahan dan keterhimpitan umat, Allah tidak menjauh. Ia hadir. Ia mendekat. Ia berbicara, “Jangan takut.” Maka ratapan berubah menjadi ruang pembebasan tempat di mana umat yang tertindas menemukan bahwa Tuhan berpihak, menghibur, dan memulihkan.

 Kesimpulan

Ratapan 3:49-57 mengajarkan kepada kita bahwa kebenaran iman terletak pada keberanian untuk mengakui penderitaan sekaligus mengangkat seruan kepada Tuhan. Di tengah air mata dan kesakitan yang tampak tak berkesudahan, ada janji bahwa Tuhan mendekat ketika kita memanggil-Nya. Dari analisis mendalam teks tersebut serta refleksi teologis melalui lensa pembacaan kontekstual dan hermeneutika pembebasan, kita mengambil beberapa poin penting:

  • Pengakuan Penderitaan: Ratapan merupakan ungkapan kejujuran hati yang mengakui keretakan dan penderitaan. Hal ini merupakan langkah awal untuk menerima penyembuhan ilahi.
  • Respon Ilahi: Tuhan tidak tinggal diam. Dalam kondisi paling ekstrim, ketika kita merasa terkurung dalam "lobang" penderitaan, Tuhan mendengar seruan kita dan memberikan pesan penghiburan: "Jangan takut!"
  • Integrasi Ratapan dan Pujian: Seperti yang diungkap oleh Epp-Tiessen, ratapan harus diintegrasikan dengan pujian agar iman kita tidak jatuh ke dalam keputusasaan, melainkan mengarah pada kepercayaan yang lebih dalam dan tindakan nyata.
  • Aplikasi Kontekstual: Pendekatan Contextual Bible Study (CBS) yang bersifat dialogis dan partisipatif memungkinkan umat untuk menanggapi penderitaan dengan menggabungkan analisis sosial, refleksi biblika, dan tindakan konkret. Ini sangat relevan bagi kehidupan gereja masa kini, terutama bagi generasi muda yang tengah mencari akar identitas dan harapan.

Dalam dunia di mana penderitaan dan ketidakpastian sering kali menjadi bagian dari kehidupan, pesan "Tuhan Dekat Tatkala Aku Memanggil" mengingatkan kita bahwa dalam setiap ratapan, dalam setiap seruan yang tulus, Tuhan selalu mendekat. Marilah kita, sebagai gereja, menciptakan ruang bagi setiap individu untuk mengungkapkan penderitaan mereka dan pada saat yang sama memperkuat iman melalui pujian kepada Tuhan. Dengan begitu, kita tidak hanya menguatkan satu sama lain, tetapi juga mengukuhkan janji bahwa kasih dan penyertaan Tuhan adalah nyata dan hidup, bahkan di tengah keterpurukan.

Semoga khotbah ini dapat menginspirasi kita semua untuk terus mencari Tuhan dalam setiap keadaan—baik dalam air mata yang mengalir, maupun dalam pujian yang menguatkan. Tuhan selalu dekat, dan Dia mendengar setiap seruan dari hati yang tulus. Amin.



[1] Adele Berlin, Lamentations: A Commentary (Old Testament Library). Westminster John Knox Press, 2002., 97.

[2] Frederick William Dobbs-Allsopp, Lamentations: Interpretation: A Bible Commentary for Teaching and Preaching. Westminster John Knox Press, 2002., 126–127

[3] Epp-Tiessen, Dan. "Praise and lament in the face of death." Vision, Spring 2004: 33–40.

[4] Gerald O. West, "Locating'Contextual Bible Study'within biblical liberation hermeneutics and intercultural biblical hermeneutics." HTS: Theological Studies 70.1 (2014): 1-10. https://doi.org/10.4102/hts.v70i1.2641

Kamis, 05 Februari 2026

Hidup Dalam Kesetiaan Kepada Tuhan (1 Raja-raja 2:3) - Pdt. Jeppri Nainggolan, M.Th.



Pendahuluan

Saudara-saudari yang dikasihi di dalam Tuhan Yesus Kristus,

Hidup sebagai umat Tuhan di tengah dunia yang telah jatuh ke dalam dosa menuntut kesetiaan yang terus-menerus. Setiap hari kita diperhadapkan pada pilihan-pilihan yang menguji siapa yang menjadi pusat hidup kita apakah Tuhan dan Firman-Nya, ataukah keinginan diri dan nilai-nilai dunia. Ada saat ketika kita tampak kuat secara rohani, namun tidak jarang kita tergoda untuk melonggarkan ketaatan demi kenyamanan dan penerimaan dunia.

 Dalam konteks inilah Firman Tuhan dari 1 Raja-raja 2:3 berbicara dengan sangat relevan. Ayat ini merupakan pesan terakhir Raja Daud kepada Salomo, anaknya, yang akan melanjutkan tongkat kepemimpinan atas umat Allah. Daud menegaskan bahwa keberhasilan dan arah hidup Salomo tidak bergantung terutama pada hikmat politik atau kekuatan pribadi, melainkan pada kesetiaannya untuk hidup menurut kehendak Tuhan, taat kepada ketetapan dan hukum-Nya.

 Namun, jika kita membaca teks ini dalam terang keseluruhan Alkitab, khususnya dalam perspektif Kristosentris, kita menyadari bahwa Salomo hanyalah bayangan dari Raja yang lebih besar. Salomo dipanggil untuk setia, tetapi ia gagal secara sempurna. Ia adalah raja yang berhikmat, namun tetap manusia berdosa. Di sinilah Injil bersinar: Yesus Kristus adalah Raja sejati, Anak Daud yang sempurna, yang hidup dalam ketaatan penuh kepada Bapa, bukan hanya sebagian, tetapi sampai mati di kayu salib.

 Kita memahami bahwa kesetiaan kita kepada Tuhan bukanlah dasar keselamatan kita, melainkan buah dari keselamatan yang telah dianugerahkan di dalam Kristus. Kristus telah taat menggantikan kita, dan oleh anugerah-Nya kita dipanggil untuk hidup dalam kesetiaan sebagai respons syukur. Hidup dalam kesetiaan kepada Tuhan berarti hidup di bawah pemerintahan Kristus, Sang Raja yang setia, dan membiarkan Firman-Nya mengarahkan seluruh aspek kehidupan kita.

 Dengan demikian, tema “Hidup Dalam Kesetiaan Kepada Tuhan” bukanlah panggilan moralistis semata, melainkan undangan Injili: untuk memandang kepada Kristus, Sang Raja yang sempurna, dan di dalam Dia, oleh kuasa anugerah-Nya, kita dimampukan untuk hidup setia kepada Tuhan.

 Teks : 1 Raja-raja 2:1-4

Amanat terakhir Daud kepada Salomo merupakan bagian dari tradisi alkitabiah yang lazim, di mana seorang pemimpin menyampaikan pesan penentu menjelang kematiannya (bdk. Kej. 49:29; 2Raj. 20:1; Kis. 20:18–35). Dalam kesadaran penuh akan kefanaan hidupnya dan kepastian kematian yang segera tiba, Daud memusatkan pesannya bukan pada warisan politik atau kekuatan militer, melainkan pada satu hal yang esensial: kesetiaan hidup kepada Tuhan. Nasihat ini sejalan dengan amanat Musa dan Yosua, yang menegaskan bahwa keberlangsungan umat Allah tidak ditentukan oleh figur pemimpin semata, tetapi oleh ketaatan pada kehendak Allah sebagaimana dinyatakan dalam Taurat.

 Panggilan Daud agar Salomo “kuat dan menjadi laki-laki” tidak semata-mata menunjuk pada keberanian fisik atau ketegasan politik, melainkan pada keteguhan batin, kedewasaan rohani, dan integritas moral di hadapan Allah. Kekuatan sejati seorang pemimpin, dan sesungguhnya setiap orang percaya, berakar pada kesetiaan yang konsisten dalam menaati perintah Tuhan. Oleh karena itu, hidup dalam kesetiaan kepada Tuhan berarti menjadikan ketaatan sebagai dasar dari setiap tindakan, keputusan, dan arah hidup.

 Kesetiaan ini diwujudkan secara konkret melalui pemeliharaan hukum Tuhan segala perintah, ketetapan, dan tuntutan perjanjian-Nya. Ketaatan tersebut bukan sekadar kepatuhan legalistik, melainkan bentuk ibadah dan tanggung jawab perjanjian yang dijalani dengan kesungguhan hati. Dengan “berjalan di jalan-jalan Tuhan”, Salomo dipanggil untuk menata seluruh kehidupannya sesuai dengan kehendak Allah, baik dalam ranah pribadi maupun publik. Inilah makna hidup yang setia: hidup yang diarahkan, dikendalikan, dan dipertanggungjawabkan kepada Tuhan.

 Janji keberhasilan yang menyertai ketaatan tidak boleh dipahami sebagai jaminan kemakmuran lahiriah semata, melainkan sebagai buah dari hikmat ilahi kemampuan untuk memahami kehendak Allah dan menjalani hidup secara benar. Kesetiaan kepada Tuhan menghasilkan kehidupan yang terarah, bermakna, dan berkenan di hadapan-Nya, sekalipun tidak selalu bebas dari tantangan.

 Ciri ini kemudian dikenal sebagai keunggulan Salomo, yakni hikmat yang lahir dari relasi yang benar dengan Allah. Namun prinsip ini tidak terbatas pada raja saja. Dalam teologi Israel, bahkan raja pun berada di bawah hukum Tuhan; tidak ada seorang pun yang kebal terhadap tuntutan kesetiaan perjanjian. Janji Allah mengenai keberlangsungan berkat dan penyertaan-Nya bergantung pada kesediaan umat, termasuk para pemimpin, untuk hidup setia dengan “berjalan di hadapan Tuhan dalam kebenaran”.

 Dengan demikian, hidup dalam kesetiaan kepada Tuhan berarti menjalani seluruh kehidupan dalam kesadaran akan hadirat Allah. Setiap langkah, pilihan, dan arah hidup diambil dengan sikap takut akan Tuhan, setia pada firman-Nya, dan bertanggung jawab sebagai umat perjanjian. Inilah inti pesan Daud dalam 1 Raja-raja 2:3 dan sekaligus panggilan yang tetap relevan bagi setiap orang percaya di sepanjang zaman.

 Tafsiran Teks: 1 Raj 2:3

“Lakukanlah kewajibanmu terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan tetap berpegang pada ketetapan, perintah, peraturan, dan hukum-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kauperbuat dan dalam segala yang kautuju.”

 1.     Konteks Perjanjian dan Otoritas Firman

Dalam Pembacaan Alkitab yang benar, 1 Raja-raja 2:3 harus dibaca dalam kerangka perjanjian Allah (covenant theology). Amanat Daud kepada Salomo bukanlah nasihat moral umum, melainkan panggilan perjanjian yang berakar pada Taurat Musa. Frasa “seperti yang tertulis dalam hukum Musa” menegaskan bahwa Firman Allah adalah standar tertinggi bagi kehidupan umat dan pemimpin, termasuk raja. Teologi Kristen menekankan prinsip sola Scriptura: Allah memerintah umat-Nya melalui Firman-Nya. Dengan demikian, Salomo tidak diberi otoritas untuk menciptakan hukum, tetapi dipanggil untuk tunduk sepenuhnya kepada hukum Allah yang telah diwahyukan. Raja Israel bukan sumber hukum, melainkan hamba di bawah hukum Allah.

 2.     “Lakukanlah Kewajibanmu terhadap TUHAN”: Hidup sebagai Ibadah

Ungkapan “lakukanlah kewajibanmu terhadap TUHAN” (Ibr. šāmar mišmeret YHWH) dalam tafsiran Reformed dipahami sebagai panggilan untuk hidup dalam ketaatan yang lahir dari relasi perjanjian, bukan sebagai usaha memperoleh keselamatan melalui perbuatan. Ketaatan adalah respon syukur atas anugerah, bukan dasar pembenaran. Daud tidak sedang mengajarkan legalisme, melainkan menegaskan bahwa hidup yang telah dipilih dan ditebus Allah harus diwujudkan dalam ketaatan nyata. Dengan kata lain, kesetiaan adalah buah anugerah, bukan penggantinya.

 3.     “Hidup Menurut Jalan yang Ditunjukkan-Nya”: Ketaatan Total dan Menyeluruh

“Hidup menurut jalan Tuhan” Ini menunjuk pada ketaatan yang holistik, mencakup seluruh aspek kehidupan pribadi, moral, politik, dan spiritual. Ini sejalan dengan pemahaman bahwa tidak ada area kehidupan yang netral atau otonom dari kedaulatan Allah (the lordship of Christ over all of life). Perintah untuk berpegang pada “ketetapan, perintah, peraturan, dan hukum” menunjukkan kelengkapan hukum Allah. Hukum tidak dipilah sesuai kepentingan manusia, melainkan ditaati sebagai satu kesatuan. Hukum Allah berfungsi:

  1. Menyatakan kehendak Allah,
  2. Menyingkapkan dosa manusia,
  3. Menjadi pedoman hidup bagi orang percaya (the third use of the law).

 4.     Janji “Supaya Engkau Beruntung”: Berkat Perjanjian, Bukan Teologi Kemakmuran

Janji bahwa Salomo akan “beruntung” sering disalahpahami. keberhasilan (śākal) bukan terutama kemakmuran materi, melainkan hidup yang berjalan selaras dengan kehendak Allah dan berada di bawah penyertaan-Nya. Berkat dalam teks ini bersifat perjanjian dan kondisional secara etis, tetapi tetap berada dalam kerangka kedaulatan Allah. Allah berdaulat penuh atas hasil akhir, namun Ia menetapkan ketaatan sebagai sarana untuk menikmati berkat-Nya. Ini tidak bertentangan dengan doktrin anugerah, karena ketaatan itu sendiri dimungkinkan oleh karya Allah dalam diri umat-Nya.

 5.      Aplikasi Dalam Kehidupan

1.      Kesetiaan kepada Tuhan di Tengah Budaya Relativisme Moral

Pergumulan masa kini:

Kebenaran semakin dipahami sebagai sesuatu yang relatif dan ditentukan oleh perasaan, mayoritas, atau kepentingan pribadi. Banyak orang percaya tergoda untuk menyesuaikan nilai hidup dengan standar dunia agar diterima atau dianggap relevan.

 

Aplikasi:

1 Raja-raja 2:3 menegaskan bahwa hidup setia kepada Tuhan berarti menjadikan Firman Allah sebagai standar absolut, bukan opini publik. Dalam perspektif Reformed, orang percaya dipanggil untuk hidup coram Deo[1] bahkan ketika ketaatan itu tidak populer. Kesetiaan tidak diukur dari penerimaan sosial, melainkan dari keselarasan hidup dengan kehendak Allah.

 

2.      Ketaatan di Tengah Tekanan Keberhasilan dan Prestasi

Pergumulan masa kini:

Keberhasilan sering diukur oleh pencapaian materi, jabatan, dan pengakuan publik. Banyak orang percaya mengalami konflik antara integritas iman dan tuntutan untuk “berhasil” menurut standar dunia.

Aplikasi:
Janji “supaya engkau beruntung” dalam 1 Raja-raja 2:3 bukan legitimasi teologi kemakmuran. Keberhasilan sejati adalah hidup yang berjalan dalam kehendak Allah, bukan sekadar hasil yang terlihat. Tuhan memanggil umat-Nya untuk taat, bukan untuk memanipulasi hasil.

Aplikasi praktis: mengambil keputusan yang benar meskipun tampak merugikan, menolak cara-cara tidak etis demi karier, dan mempercayakan hasil akhir kepada kedaulatan Allah.

 

3.      Hidup Utuh di Tengah Spiritualitas yang Terfragmentasi

Pergumulan masa kini:

Iman sering dipisahkan dari kehidupan sehari-hari: rohani di gereja, tetapi sekuler di tempat kerja; taat dalam ibadah, tetapi kompromistis dalam praktik hidup.

Aplikasi:
“Berjalan di jalan Tuhan” berarti ketaatan yang menyeluruh, bukan parsial. Perspektif Reformed menegaskan bahwa seluruh kehidupan berada di bawah pemerintahan Allah. Tidak ada wilayah netral yang bebas dari tuntutan kesetiaan kepada-Nya.

Aplikasi praktis: menjadikan iman Kristen sebagai dasar dalam pengelolaan keuangan, penggunaan waktu, etika digital, cara memimpin, dan relasi keluarga.

 

Penutup Aplikatif

1 Raja-raja 2:3 mengajarkan bahwa

  1. Kesetiaan kepada Tuhan bukan sekadar ideal rohani, tetapi panggilan hidup yang konkret di tengah pergumulan nyata zaman ini.
  2. Orang percaya dipanggil untuk hidup taat sebagai respons syukur atas anugerah, dengan bersandar pada Kristus dan dipimpin oleh Roh Kudus, sambil mempercayakan seluruh hasil hidup kepada kedaulatan Allah.
  3. Hidup dalam kesetiaan kepada Tuhan berarti memilih ketaatan setiap hari, di tengah dunia yang menawarkan banyak jalan, tetapi hanya satu jalan yang berkenan kepada Allah.

 



[1] Coram Deo adalah frasa Latin yang terdapat dalam Vulgata; artinya "di hadapan Allah" atau "di hadirat Allah." Dalam Vulgata Latin, frasa coram Deo muncul dalam Mazmur 55:13 (Mazmur 56:13 dalam terjemahan modern). Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, ayat tersebut berbunyi, "Karena Engkau telah menyelamatkan aku dari maut dan kakiku dari tersandung, supaya aku dapat berjalan di hadapan Allah [ coram Deo] dalam terang hidup" (penekanan ditambahkan).

Kamis, 23 Oktober 2025

“Keluarga yang Menjadi Teladan Iman” Yosua 24:14–15




Shalom Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,

Setiap keluarga memiliki pusat kehidupan yang menentukan arah dan nilai-nilainya. Bagi sebagian orang, pusat itu adalah pekerjaan; bagi yang lain, mungkin harta, kehormatan, atau kenyamanan. Namun bagi orang percaya sejati, pusat dari kehidupan keluarga seharusnya adalah Tuhan sendiri.

Yosua 24:14–15

Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN  dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah  yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir,  dan beribadahlah kepada TUHAN. Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori n  yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku,  kami akan beribadah kepada TUHAN " 

Dalam Yosua 24, kita melihat seorang pemimpin besar yang sudah menua, Yosua- berdiri di hadapan seluruh bangsa Israel untuk menyampaikan pesan terakhirnya. Setelah memimpin umat menyeberangi sungai Yordan dan menaklukkan Tanah Perjanjian, ia tidak berbicara tentang keberhasilan militer atau strategi politik, melainkan tentang ibadah keluarga dan kesetiaan kepada Tuhan.

Ia berkata dengan tegas,

“Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah... tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.”

Kalimat ini bukan sekadar pernyataan pribadi, melainkan deklarasi rohani dari seorang kepala keluarga yang mengerti bahwa tanggung jawab iman dimulai dari rumah.

Konteks Teologis: Yosua 24:14–15

Yosua berbicara kepada Israel setelah mereka menikmati berkat Tuhan—tanah, keamanan, dan kedamaian. Tetapi ia tahu bahwa berkat tanpa kesetiaan akan berakhir pada penyimpangan. Karena itu, ia menegaskan: “Takutlah akan Tuhan dan beribadahlah kepada-Nya dengan ketulusan dan kebenaran” (ayat 14).

Dalam bahasa Ibrani, kata ʿabad (“melayani” atau “beribadah”) diulang tujuh kali dalam ayat 14–15 menandakan kepenuhan. Yosua sedang menekankan bahwa pelayanan kepada Tuhan haruslah total dan eksklusif. Tidak ada tempat bagi dewa-dewa lain.

3     Hal Penting yang dapat kita lihat dalam 2 ayat ini, yaitu

1.    Iman yang Berakar dalam Keluarga:

Yosua tidak hanya menantang bangsa Israel secara umum, tetapi berbicara sebagai kepala rumah tangga:

“Aku dan seisi rumahku...”

keluarga sering disebut sebagai ecclesiola in ecclesia “gereja kecil dalam gereja.” John Calvin menulis bahwa rumah tangga Kristen adalah tempat pertama di mana Injil diajarkan, iman dibentuk, dan kasih kepada Allah dipraktikkan.

Dengan kata lain, Iman Yang Sejati Tidak Dimulai Dari Mimbar, Tetapi Dari Meja Makan Keluarga.

2.    Ketulusan dan Kebenaran:

Frasa “melayani Tuhan dengan ketulusan dan kebenaran” (ayat 14) menunjukkan dua dimensi iman Reformed:

a.      Ketulusan (tamim) menunjuk pada hati yang utuh, tidak munafik, tidak terbagi antara Allah dan dunia.

b.     Kebenaran (’emet) menekankan kesetiaan yang nyata - iman yang diekspresikan dalam tindakan, bukan sekadar kata. Yosua memanggil umat untuk ibadah yang berakar pada kasih karunia dan diwujudkan dalam kesetiaan hidup.

3.    Panggilan untuk Memilih:

Uniknya, di seluruh Perjanjian Lama, jarang sekali manusia diminta memilih Tuhan — biasanya Tuhanlah yang memilih umat-Nya. Tetapi di sini, Yosua menegaskan tanggung jawab manusia untuk meneguhkan pilihan iman mereka. Pilihan itu tidak bisa ditunda atau dinegosiasi: “Pilihlah pada hari ini.” Dalam perspektif Reformed, ini adalah panggilan kepada respons iman yang aktif — hasil dari anugerah yang bekerja dalam hati manusia yang telah diperbarui oleh Roh Kudus.

Makna dan Aplikasi bagi Keluarga Kristen:

  1. Keluarga Kristen Dipanggil Menjadi Teladan Iman.

Dalam dunia yang terus berubah, di mana nilai-nilai rohani sering dipinggirkan, Tuhan memanggil setiap keluarga untuk berdiri teguh seperti Yosua.
Teladan iman bukan hanya dalam perkataan, tetapi dalam keputusan hidup sehari-hari ketika orang tua mengajar anak-anak berdoa, membaca Firman, dan hidup dalam kasih.

  1. Iman yang Murni Dimulai dari Rumah.

Calvin menekankan bahwa kepala keluarga adalah imam rohani dalam rumah tangganya. Melalui doa, pembacaan Alkitab, dan teladan hidup, keluarga Kristen menjadi sarana utama Allah untuk menanamkan iman kepada generasi berikutnya.

  1. Setia di Tengah Dunia yang Menyembah “Dewa Modern.”

Dewa-dewa zaman ini tidak lagi berbentuk patung, tetapi hadir dalam bentuk kesuksesan, hiburan, status, dan ambisi pribadi. Karena itu, keluarga Kristen harus berani berkata seperti Yosua:

“Sekalipun dunia memilih jalan lain, aku dan keluargaku akan tetap beribadah kepada Tuhan.”

 Penutup Renungan:

Saudara-saudara, iman sejati tidak diwariskan secara otomatis ia harus diperjuangkan dan dipelihara. Seorang ayah atau ibu yang hidup takut akan Tuhan memberi warisan rohani yang jauh lebih berharga daripada segala harta duniawi.

Kiranya setiap keluarga di tengah jemaat kita dapat meneladani semangat Yosua menjadi keluarga yang menaruh Tuhan di pusat kehidupan, yang memilih untuk melayani Dia dengan tulus dan setia.

 Mari kita bertanya kepada diri sendiri hari ini:

“Apakah rumah tanggaku dikenal sebagai rumah yang beribadah kepada Tuhan?”

Dan dengan iman yang teguh, marilah kita menyatakan bersama:

“Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.”

 

“Tuhan Dekat Tatkala Aku memanggil” Ratapan 3:49-57

Ibadah Minggu I Pra-Paskah (Minggu Pertama dalam Masa Prapaskah A.     Pendahuluan Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan, Ada masa...