"Logos veritas Scientia"

Jumat, 13 Maret 2026

“Notifikasi Tuhan vs Notifikasi Instagram” 1 Raja 19:1-18 Pdt. Jeppri Nainggolan, M.Th.



Pendahuluan

Banyak penelitian tentang pelayanan pemuda di era digital menunjukkan bahwa media sosial menciptakan banyak distraksi yang memengaruhi pertumbuhan rohani anak muda, karena perhatian mudah terpecah oleh berbagai rangsangan digital setiap saat, Misalnya Matthew Judson Dixon, Connie L. Beckham[1] Scott W. Sherman[2],

 Matthew Judson Dixon,[3] Tentang distraksi digital dan pembentukan iman remaja

Dixon menekankan bahwa penggunaan media digital perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi pembentukan iman remaja:

“Many fail to ask what effect the frequency and form of technological use is having on the Christian formation of adolescents.”

(Dixon, 2014, p.119 Bagian Abstrak)

Artinya:

“Banyak orang tidak mempertanyakan bagaimana frekuensi dan bentuk penggunaan teknologi memengaruhi pembentukan iman remaja Kristen.”

Dixon juga menegaskan pentingnya menilai penggunaan media digital dalam konteks pembentukan iman:

“If one of the primary goals of Christian education is to promote Christian formation, this must be considered by all Christian educators.”

Artinya:

“Jika tujuan utama pendidikan Kristen adalah membentuk iman dan karakter Kristen pada seseorang, maka semua pendidik Kristen harus mempertimbangkan hal-hal yang mempengaruhi pembentukan iman tersebut.”

Ø  Pendidikan Kristen tidak hanya mengajar pengetahuan Alkitab

Ø  Tetapi juga membentuk iman, karakter, dan kehidupan rohani remaja

Ø  Karena itu, para guru atau pendidik Kristen harus memikirkan dampak penggunaan teknologi (HP, media sosial, internet, dll.) terhadap pembentukan iman mereka.

Bahkan beberapa studi pelayanan gereja menyebutkan bahwa salah satu tantangan terbesar pembentukan iman generasi muda adalah belajar menciptakan ruang hening untuk mendengar Tuhan di tengah kebisingan teknologi (John, 2013; Trimble, 2025).[4]

 Masalahnya bukan hanya soal HP kita berbunyi, tetapi hati kita menjadi terlalu penuh dengan banyak suara.

Hari ini kita akan belajar dari seorang tokoh Alkitab yang juga pernah berada dalam situasi penuh tekanan dan kebisingan hidup: Nabi Elia.

Dalam 1 Raja-raja 19:1–18, Elia sedang berada dalam keadaan lelah, takut, dan putus asa. Tuhan kemudian menunjukkan beberapa hal yang luar biasa:

  • Angin Yang Besar
  • Gempa Bumi
  • Api

Tetapi Alkitab mengatakan Tuhan tidak ada di situ.

Lalu setelah semua itu lewat, datanglah sesuatu yang sangat berbeda:

“...bunyi angin sepoi-sepoi basa.” (1 Raja-raja 19:12)

Di situlah Tuhan berbicara kepada Elia.

Ini menarik sekali.

Tuhan sebenarnya bisa berbicara lewat hal yang spektakuler.

Tetapi dalam kisah ini, Tuhan memilih berbicara melalui suara yang lembut.

Masalahnya bagi kita hari ini adalah:

Bagaimana kita bisa mendengar suara Tuhan yang lembut, kalau hidup kita penuh dengan notifikasi yang keras?

Kadang-kadang kita lebih cepat merespon:

  • Notifikasi Instagram
  • Pesan Whatsapp
  • Update Tiktok

daripada “notifikasi Tuhan” dalam hidup kita.

Karena itu tema firman Tuhan hari ini adalah:

“Notifikasi Tuhan vs Notifikasi Instagram”

Pertanyaannya bukan apakah kita punya media sosial atau tidak.

Tetapi notifikasi mana yang paling kita dengar?

Apakah kita lebih peka terhadap bunyi HP atau terhadap suara Tuhan dalam hidup kita?

Mari kita belajar dari pengalaman Elia bagaimana Tuhan berbicara, dan bagaimana kita sebagai pemuda bisa belajar peka terhadap notifikasi dari Tuhan.

Banyak pembacaan modern terhadap 1 Raja-raja 19 menafsirkan kisah ini terutama sebagai gambaran tentang depresi atau krisis psikologis yang dialami nabi Elia. Namun, pendekatan seperti itu sering terlalu menyempitkan makna teks. Jika pasal ini dibaca dalam konteks naratif yang lebih luas, khususnya rangkaian cerita dalam 1 Raja-raja 17–19, maka pasal 19 lebih tepat dipahami sebagai bagian dari kisah yang menggambarkan kesaksian kenabian, konflik dengan kekuasaan, serta kelelahan rohani yang muncul dari pelayanan yang intens. Para penafsir menekankan bahwa perjalanan Elia menuju Horeb tidak hanya menggambarkan keputusasaan pribadi, tetapi juga merupakan bagian dari dinamika panggilan kenabian dan pembaruan ilahi dalam pelayanan nabi.[5]

Narasi tentang Elia sejak awal memang digambarkan secara unik dibandingkan dengan nabi-nabi lain. Ia muncul secara tiba-tiba dalam kisah Alkitab tanpa pengantar genealogis atau latar belakang yang jelas (1 Raj. 17:1), dan perintah pertama yang ia terima dari Yahweh adalah untuk menarik diri dan bersembunyi di sebelah timur Sungai Yordan (1 Raj. 17:3). Keunikan ini menunjukkan bahwa hubungan Elia dengan Yahweh dibangun melalui pola ketergantungan langsung pada firman Tuhan, bukan melalui struktur kenabian yang lebih formal sebagaimana terlihat pada nabi-nabi lain dalam tradisi Israel.[6]

Dalam pasal 18, setelah firman pembuka dari Yahweh (1 Raj. 18:1), tindakan langsung Yahweh dalam cerita relatif terbatas; puncaknya terlihat dalam turunnya “api TUHAN” yang menghanguskan korban di Gunung Karmel (1 Raj. 18:38). Selebihnya, narasi menggambarkan Elia sebagai tokoh yang secara aktif mengarahkan jalannya peristiwa: ia menantang nabi-nabi Baal, mengatur pertemuan di Gunung Karmel, dan memimpin konfrontasi teologis yang dramatis. Dengan demikian, cerita ini memperlihatkan bagaimana seorang nabi dapat menjadi agen utama dalam konflik religius yang menentukan bagi bangsa Israel.[7]

Sejumlah penafsir juga menunjukkan kontras menarik dalam cara Allah memelihara hamba-Nya dalam pasal 17 dan 18. Dalam pasal 17, Elia dipelihara melalui sarana yang berada di luar wilayah pusat kekuasaan Israel—seperti burung gagak di tepi Sungai Kerit dan seorang janda di Sarfat di wilayah Fenisia. Sementara itu, dalam pasal 18, ketika kisah kembali berada dekat dengan Ahab, muncul tokoh Obaja yang tetap setia kepada Yahweh meskipun berada dalam struktur pemerintahan yang dipengaruhi oleh penyembahan Baal. Kedua kisah ini menunjukkan bahwa kesetiaan kepada Yahweh dapat diwujudkan melalui bentuk pelayanan yang berbeda dalam situasi politik dan sosial yang berbeda.[8]

Selain itu, dalam kedua pasal tersebut muncul tema-tema naratif yang berulang, seperti pemeliharaan melalui makanan dan pengalaman bersembunyi di tempat terpencil, yang semuanya berlangsung dalam konteks penganiayaan keras terhadap para nabi Yahweh yang dipicu oleh Izebel. Tema-tema ini menyiapkan latar belakang bagi krisis Elia dalam pasal 19, di mana tekanan pelayanan, ancaman politik, dan ekspektasi religius mencapai puncaknya.[9]

Narasi ini juga sering dibaca dalam terang paralel dengan Musa. Seperti Musa, Elia melakukan perjalanan menuju Horeb, gunung tempat Allah pernah menyatakan diri kepada Israel. Namun, terdapat perbedaan penting: Musa di Sinai/Horeb bertindak sebagai perantara yang bersyafaat bagi umat yang berdosa, sedangkan Elia di Horeb justru menyoroti kesendiriannya sebagai nabi yang merasa ditinggalkan. Ia mengeluhkan bahwa hanya dirinya yang tersisa yang setia kepada Yahweh (1 Raj. 19:10, 14). Perbandingan ini menyoroti dinamika yang berbeda antara kedua tokoh tersebut dalam memahami panggilan kenabian mereka.[10]

Semangat Elia bagi Yahweh tidak diragukan. Namun, narasi ini juga memperlihatkan sisi lain dari semangat tersebut: keyakinannya bahwa ia adalah satu-satunya yang benar-benar setia kepada Tuhan. Ketika realitas tidak sesuai dengan harapannya, terutama setelah kemenangan dramatis di Gunung Karmel, tidak langsung menghasilkan pertobatan nasional, Elia mengalami kekecewaan mendalam dan merasa bahwa pelayanannya sia-sia.[11]

Akhirnya, pengalaman teofani di Horeb memberikan koreksi teologis yang penting bagi perspektif Elia. Allah tidak hanya bekerja melalui peristiwa spektakuler seperti api dari langit di Gunung Karmel, tetapi juga melalui cara yang sangat tenang dan hampir tak terdengar, yang sering diterjemahkan sebagai “suara angin sepoi-sepoi” (1 Raj. 19:12). Dengan demikian, kisah ini mengajarkan bahwa karya Allah tidak selalu hadir dalam manifestasi dramatis, tetapi juga dalam bentuk yang lembut dan tersembunyi, yang menuntut kepekaan rohani untuk mengenalinya.

 

Analisis Raja 19:1-18

1.      נַפְשׁוֹ (nafsho) – “hidupnya / nyawanya” (1 Raj. 19:3)

Kata Ibrani נַפְשׁוֹ (nafsho) berasal dari akar kata נפש (nephesh), yang dalam bahasa Ibrani Alkitab dapat menunjuk pada kehidupan, diri pribadi, jiwa, atau keberadaan manusia secara menyeluruh. Dalam frasa וַיֵּלֶךְ אֶל־נַפְשׁוֹ, yang secara literal berarti “ia pergi demi hidupnya,” penulis menggambarkan tindakan Elia sebagai usaha untuk menyelamatkan kehidupannya setelah ancaman Izebel. Dalam kajian leksikal Perjanjian Lama, nephesh sering merujuk pada keseluruhan keberadaan manusia, bukan hanya aspek spiritualnya.[12] Dengan demikian, pelarian Elia mencerminkan respons manusiawi untuk mempertahankan eksistensinya di tengah ancaman kematian.

 2.       רַב עַתָּה יְהוָה (rav attah YHWH) – “Cukuplah sekarang, TUHAN” (1 Raj. 19:4)

Ungkapan רַב עַתָּה יְהוָה secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “cukup sekarang, ya TUHAN.” Frasa ini mengungkapkan kelelahan yang sangat mendalam serta keputusasaan seorang nabi yang merasa tidak sanggup lagi melanjutkan pelayanannya. Dalam literatur kenabian, ungkapan semacam ini sering dipahami sebagai bentuk ratapan pribadi yang muncul dalam situasi tekanan emosional dan spiritual yang berat.[13] Dengan demikian, pernyataan Elia tidak hanya menunjukkan kelelahan fisik, tetapi juga krisis spiritual yang mendalam.

 3.       קַח נַפְשִׁי (qah nafshi) – “ambillah nyawaku” (1 Raj. 19:4)

Ungkapan קַח נַפְשִׁי berasal dari kata kerja לקח (laqach) yang berarti “mengambil.” Secara literal, frasa ini berarti “ambilah hidupku.” Permohonan ini menggambarkan keputusasaan Elia yang begitu mendalam sehingga ia meminta agar hidupnya diakhiri. Namun, narasi menunjukkan bahwa Allah tidak memenuhi permintaan tersebut. Sebaliknya, Allah memberikan makanan dan kekuatan baru kepada Elia. Hal ini menunjukkan bahwa respons Allah terhadap keputusasaan manusia bukanlah penghentian kehidupan, tetapi pemulihan dan penguatan untuk melanjutkan panggilan ilahi.[14]

 4.       מַלְאַךְ (malʾakh) – “malaikat / utusan” (1 Raj. 19:5,7)

Istilah מַלְאַךְ יְהוָה secara harfiah berarti “malaikat TUHAN.” Secara leksikal, kata malʾakh berarti “utusan” atau “perantara” yang membawa pesan atau tindakan dari pihak yang mengutusnya.[15] Dalam banyak narasi Perjanjian Lama, malaikat TUHAN berfungsi sebagai sarana melalui mana Allah bertindak secara langsung dalam sejarah manusia. Dalam konteks 1 Raja-raja 19, malaikat tersebut memberikan makanan dan kekuatan kepada Elia sebagai persiapan untuk perjalanan spiritualnya menuju Horeb.[16]

 5.       אַרְבָּעִים יוֹם וְאַרְבָּעִים לַיְלָה – “empat puluh hari empat puluh malam” (1 Raj. 19:8)

Ungkapan “empat puluh hari empat puluh malam” memiliki makna simbolis yang penting dalam tradisi Alkitab. Angka empat puluh sering dikaitkan dengan masa ujian, pemurnian, atau persiapan rohani. Misalnya, Musa berada di Gunung Sinai selama empat puluh hari (Kel. 34:28), dan Israel mengembara di padang gurun selama empat puluh tahun. Oleh karena itu, perjalanan Elia selama empat puluh hari menuju Horeb menciptakan paralel teologis antara pengalaman Elia dan pengalaman Musa.[17]

 6.       חֹרֵב (Horeb)

Gunung Horeb merupakan nama lain dari Gunung Sinai, tempat yang sangat penting dalam sejarah iman Israel karena di sanalah Allah memberikan Taurat kepada Musa. Dalam konteks narasi ini, perjalanan Elia ke Horeb menghubungkan pengalaman pribadinya dengan sejarah perjanjian antara Allah dan Israel. Dengan demikian, krisis yang dialami Elia ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas dari karya penyelamatan Allah dalam sejarah umat-Nya.[18]

 7.       קוֹל דְּמָמָה דַקָּה (qol demamah daqqah) – “suara keheningan yang lembut” (1 Raj. 19:12)

Frasa קוֹל דְּמָמָה דַקָּה secara literal terdiri dari tiga unsur: קול (suara), דממה (keheningan), dan דקה (halus atau lembut). Oleh karena itu, frasa ini dapat diterjemahkan sebagai “suara dari keheningan yang lembut.” Banyak terjemahan Alkitab menerjemahkannya sebagai “still small voice” atau “gentle whisper.” Dalam kajian teologis, ungkapan ini menegaskan bahwa wahyu Allah tidak selalu hadir melalui fenomena dramatis seperti angin besar, gempa bumi, atau api, tetapi juga melalui pengalaman keheningan yang lembut.[19]

 

Tafsiran Naratif Teks 1 Raj 19:1-18

1)    Ancaman Izebel dan Pelarian Elia (1 Raj. 19:1–3)

Sesudah kemenangan besar Elia atas nabi-nabi Baal di Gunung Karmel (1 Raj. 18), pembaca kemungkinan mengantisipasi terjadinya perubahan signifikan dalam kehidupan religius bangsa Israel. Namun demikian, narasi Alkitab justru memperlihatkan situasi yang berbeda, yaitu munculnya ancaman pembunuhan dari Izebel terhadap Elia. Kontras yang tajam antara keberhasilan spektakuler tersebut dan ancaman terhadap nyawa sang nabi menegaskan bahwa keberhasilan dalam aspek rohani tidak selalu secara langsung menghasilkan transformasi sosial maupun politik dalam masyarakat.[20]

 Keputusasaan Elia (1 Raj. 19:4–8)

Ketika berada di padang gurun, Elia mengalami kelelahan fisik dan emosional yang sangat mendalam. Ia duduk di bawah pohon arar dan memohon agar hidupnya diakhiri. Menariknya, respons Allah terhadap kondisi keputusasaan tersebut bukan berupa teguran atau pengajaran teologis secara langsung. Sebaliknya, Allah terlebih dahulu memulihkan Elia melalui kebutuhan dasar manusia, yakni istirahat dan makanan. Peristiwa ini menunjukkan bahwa pemulihan spiritual sering kali diawali dengan pemulihan kondisi fisik dan emosional seseorang.[21]

  Pertemuan dengan Allah di Horeb (1 Raj. 19:9–14)

Di Gunung Horeb, Allah dua kali mengajukan pertanyaan kepada Elia: “Apakah kerjamu di sini, Elia?” Pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk memperoleh informasi dari Elia, melainkan berfungsi sebagai sarana untuk mendorong refleksi diri. Jawaban Elia mengungkapkan perasaannya bahwa ia adalah satu-satunya orang yang masih setia kepada Allah. Akan tetapi, persepsi ini tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan, karena Allah kemudian menyatakan bahwa masih terdapat tujuh ribu orang Israel yang tidak menyembah Baal.[22]

 Pelajaran Penting

Kisah Elia memberikan peringatan bagi orang percaya:

  • Jangan berpikir bahwa cara kita adalah satu-satunya cara Tuhan bekerja.
  • Jangan merasa kita sendirian dalam pelayanan.
  • Jangan mengukur keberhasilan pelayanan hanya dari hasil yang terlihat.

Pelayanan Kristen yang sejati, seperti yang ditunjukkan oleh Paulus, melibatkan kelemahan dan penderitaan sekaligus kuasa Allah.

Tokoh misionaris William Carey pernah berkata:

“Harapkan hal-hal besar dari Allah dan usahakan hal-hal besar bagi Allah.”

Namun, ia sendiri mengalami banyak kesulitan, kekecewaan, dan kesepian dalam pelayanannya di India. Rahasianya adalah kepercayaannya kepada kedaulatan Allah.

Menjelang kematiannya ia berkata:

“Jangan berbicara tentang Dr. Carey.

Bicarakan tentang Juruselamat Dr. Carey.”

 

Kesimpulan Khotbah

1.      Tuhan tidak bergantung pada sensasi spektakuler untuk menyatakan diri-Nya. Ia terutama berbicara melalui Firman-Nya yang cukup dan berotoritas.

2.      Tuhan tidak terutama berbicara lewat “notifikasi supranatural yang random”, tetapi melalui Firman yang sudah dinyatakan dalam Kitab Suci.

Elia menemukan Tuhan bukan dalam keributan spektakuler, tetapi dalam kehadiran Allah yang menyatakan firman-Nya.


[1] Connie L. Beckham, "Rethinking Connection: Spirituality, Social Media, and Crisis of Faith in Young Adult" (2023). Doctoral Dissertations and Projects. 4482.

https://digitalcommons.liberty.edu/doctoral/4482

[2] Scott W. Sherman, "An Investigation into the Redemptive Uses of Technology to Help Churches Reach the Lost and Make Disciples" (2024). Doctoral Dissertations and Projects. 6356.

https://digitalcommons.liberty.edu/doctoral/6356

[3] A Thesis Presented to the Faculty of The Southern Baptist Theological Seminary In Partial Fulfillment

of the Requirements for the Degree Doctor of Education. Matthew Judson Dixon, "Digital media use and adolescent Christian formation: A correlation study." The Southern Baptist Theological Seminary, 2014. 119

[4] St. John, Kelvin Wesley, Creating space for God in the lives of millennials by leveraging technology to practice a spiritual discipline modeled by Christ. Asbury Theological Seminary, 2013.; Thomas Trimble, Digital Dominion: Smartphones, Social Media, and Jesus. WestBow Press, 2025.

[5] Asep Afaradi, "Leadership failure and divine renewal: A theological study of Elijah in 1 Kings 19." HTS Teologiese Studies/Theological Studies 81.1 (2025): 10954.; J. Dwayne Howell and Susan H. Howell. "Journey to Mount Horeb: Cognitive Theory and 1 Kings 19: 1–18." Mental Health, Religion and Culture 11.7 (2008): 655-660.

[6] Thomas L. Brodie, The crucial bridge: The Elijah-Elisha Narrative as an interpretive synthesis of Genesis-Kings and a literary model for the Gospels. Liturgical Press, 2000.; Havilah Dharamraj, A prophet like Moses? A narrative-theological reading of the Elijah narratives. Doctoral thesis, Durham University, 2006.

[7] Bernard P. Robinson, "Elijah at Horeb, 1 Kings 19: 1-18: A Coherent Narrative?." Revue Biblique (1946-) (1991): 513-536.; Daewoong Kim, "Revisiting the Elijah Narrative (1 Kings 17–19)." TORCH TRINITY Journal 18.2 (2015): 165-184.

[8] David T. Lamb, "‘A Prophet Instead of You’(1 Kings 19: 16): Elijah, Elisha and Prophetic Succession." Prophecy and Prophets in Ancient Israel: Proceedings of the Oxford Old Testament Seminar, New York: T and T Clark International. 2010. 172-187.; Mark A. Throntveit, "1 Kings 19: Lead, follow, or get out of the way?" Lutheran Theological Journal 50.2 (2016): 125-135.

[9] Dariusz Iwański and Thomas G. Plante. "Potential mental disorder symptoms in the Prophet Elijah: An exegetical and psychological analysis of selected episodes from 1 Kings 18–19." Journal of religion and health 64.3 (2025): 1856-1875. Lihat juga Kimberly R. Rosenberg, A Home for the Depressed and Anxious Sojourner: A Biblical Perspective on Welcoming Sufferers of Mental Illness into Communities of Faith. MS thesis. Regent University, 2020.

[10] Havilah Dharamraj, A prophet like Moses? A narrative-theological reading of the Elijah narratives. Doctoral thesis, Durham University, 2006.

[10] Bernard P. Robinson, "Elijah at Horeb, 1 Kings 19: 1-18: A Coherent Narrative?." Revue Biblique (1946-) (1991): 513-536

[11] Ekaterina E.Kozlova, "1 Kings 19 and Its Emotional Repertoires: The Horeb Theophany Revisited." Vetus Testamentum 1.aop (2025): 1-26.

[12] Ludwig Koehler, Walter Baumgartner, and Johann Jakob Stamm, The Hebrew and Aramaic Lexicon of the Old Testament. Brill, 2013, 713-715.

[13] Walter Brueggemann, Smyth & Helwys Bible Commentary: 1 & 2 Kings. Smyth & Helwys Publishing, 2000. 231-232.

[14] Mordechai Cogan, 1 Kings: A New Translation With Introduction and Commentary (Anchor Bible). Crown Pub, 2001. 456-457.

[15] Ludwig Koehler, Walter Baumgartner, and Johann Jakob Stamm, The Hebrew and Aramaic Lexicon of the Old Testament, 585.

[16] Paul R. House, 1, 2 Kings: An Exegetical and Theological Exposition of Holy Scripture (The New American Commentary). Holman Reference, 1995. 224.

[17] Terence E. Fretheim, First and Second Kings (Westminster Bible Companion). Westminster John Knox Press, 1999. 112-113.

[18] Walter Brueggemann, Smyth & Helwys Bible Commentary: 1 & 2 Kings, 233.

[19] Benjamin D. Sommer, "Revelation at Sinai in the Hebrew Bible and in Jewish theology." The Journal of Religion 79.3 (1999): 422-451.

[20] Walter Brueggemann, Smyth & Helwys Bible Commentary: 1 & 2 Kings, 230.

[21] Paul R. House, 1, 2 Kings: An Exegetical and Theological Exposition of Holy Scripture, 225.

[22] Mordechai Cogan, 1 Kings: A New Translation With Introduction and Commentary, 459.

Sabtu, 21 Februari 2026

“Tuhan Dekat Tatkala Aku memanggil” Ratapan 3:49-57



Ibadah Minggu I Pra-Paskah (Minggu Pertama dalam Masa Prapaskah

A.    Pendahuluan

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan,

Ada masa dalam hidup ketika air mata tidak berhenti mengalir. Kita berdoa, tetapi langit terasa tertutup. Kita berseru, tetapi seolah-olah tidak ada jawaban. Hati terasa berat, situasi tidak berubah, dan kita mulai bertanya: Apakah Tuhan masih dekat? Apakah Ia masih mendengar? Apakah Tuhan masih melihat air mataku?

 Kitab Ratapan lahir dari situasi seperti itu. Yerusalem hancur. Bait Allah terbakar. Bangsa yang dahulu disebut umat pilihan kini tercerai-berai. Tidak ada kemuliaan, tidak ada keamanan, tidak ada kepastian. Yang tersisa hanyalah reruntuhan, tangisan, dan pertanyaan besar tentang kehadiran Allah.

 Namun di tengah kehancuran itu, muncul satu suara yang berbeda. Suara seorang yang berkata:

“Aku memanggil nama-Mu, ya TUHAN, dari lobang yang paling dalam… Engkau mendekat pada hari aku berseru; Engkau berkata: ‘Jangan takut!’”

Inilah kabar yang mengejutkan:

Tuhan tidak jauh ketika kita berseru dari kedalaman.

Justru di sana di titik paling rendah, di saat paling gelap Ia mendekat.

 Tema kita hari ini, “Tuhan Dekat Tatkala Aku Memanggil,” bukanlah janji bahwa masalah langsung hilang. Bukan juga jaminan bahwa penderitaan segera berakhir. Tetapi ini adalah deklarasi iman bahwa di tengah air mata yang tak berhenti, Allah tetap mendengar, tetap hadir, dan tetap berbicara: “Jangan takut.”

Hari ini kita akan melihat bagaimana:

  • Seruan dari kedalaman menjadi titik balik iman,
  • Kehadiran Allah lebih kuat daripada rasa takut,
  • Dan pengharapan lahir bukan karena keadaan berubah, tetapi karena Allah mendekat.

 B.     Konteks Historis dan Teologis

Pada zamannya, kitab Ratapan ditulis dalam konteks kehancuran Yerusalem dan pembuangan yang menyebabkan trauma kolektif bagi bangsa Israel. Penderitaan yang digambarkan dalam teks ini merupakan refleksi dari kehilangan identitas nasional, sosial, dan spiritual. Namun, meskipun menghadirkan gambaran duka yang mendalam, teks ini juga menekankan bahwa dalam penderitaan sekalipun, Tuhan tetap hadir. Hal ini sejalan dengan prinsip-prinsip pembacaan kontekstual, di mana konteks sosial dan historis tidak diabaikan, melainkan dijadikan dasar untuk memperoleh makna dan apresiasi terhadap pesan ilahi.

Konteks Ratapan 3

Ratapan 3 memiliki karakter yang cukup berbeda dibandingkan dua pasal sebelumnya. Pasal ini terdiri dari enam puluh enam ayat, namun panjang keseluruhannya kurang lebih sama karena setiap ayat lebih singkat. Sejak awal sudah terasa perbedaannya, karena pasal ini dibuka dengan pernyataan yang sangat personal: “Akulah orang yang telah melihat penderitaan.” Fokusnya bukan lagi langsung pada kota, melainkan pada seorang individu yang berbicara dari kedalaman pengalaman pribadinya.

Di dalamnya kita menemukan kontras yang tajam: dari keputusasaan menuju harapan, dari perasaan ditinggalkan Allah menuju keyakinan akan keselamatan-Nya. Ratapan 3 memadukan kegelapan dan terang dalam satu tarikan napas. Ada ayat-ayat yang begitu suram, tetapi di tengahnya muncul pengakuan iman yang sangat kuat dan penuh pengharapan.

Salah satu perdebatan utama dalam penafsiran pasal ini adalah mengenai identitas “pria” yang berbicara. Ada yang mengusulkan bahwa ia adalah nabi Yeremia, mengingat beberapa kemiripan pengalaman seperti pernah dilemparkan ke dalam sumur. Ada pula yang berpendapat bahwa ia mungkin seorang raja Yehuda seperti Yoyakhin atau Zedekia. Sebagian melihatnya sebagai personifikasi Sion dalam bentuk laki-laki, atau sebagai “manusia universal” yang mewakili seluruh bangsa.

Menurut Adele Berlin, tokoh “pria” ini dapat dipahami sebagai pasangan dari suara perempuan kota dalam Ratapan 1. Jika pasal pertama menghadirkan Yerusalem sebagai perempuan yang meratap, maka pasal ketiga menghadirkan suara laki-laki sebagai penyeimbangnya.[1] Bahkan, tokoh ini dinilai memiliki kemiripan dengan figur Ayub seseorang yang bergumul dengan penderitaan yang tampaknya datang dari tangan Tuhan sendiri

Sementara itu, F. W. Dobbs-Allsopp melihat adanya keseimbangan gender yang disengaja: suara laki-laki di pasal 3 melengkapi sekaligus mengontraskan suara perempuan Sion. Penderitaan tidak hanya menimpa satu kelompok; ia melanda laki-laki dan perempuan, seluruh komunitas tanpa kecuali.[2]

Menariknya, dalam Ratapan 3 terjadi pergeseran kata ganti dari “aku” menjadi “kami” dan “kita”. Meski demikian, Dobbs-Allsopp berpendapat bahwa tetap ada satu pengarang, sebagaimana juga ditemukan dalam beberapa mazmur ratapan (misalnya Kitab Mazmur 44; 74; 123). Dengan demikian, pengalaman pribadi sang “pria” perlahan-lahan melebur menjadi pengalaman bersama. Suaranya berubah menjadi suara kolektif dari “aku” menjadi “kita”.

Apakah mungkin pembicara ini adalah Yeremia? Memang ada kemiripan dengan pengalaman yang dicatat dalam Kitab Yeremia, khususnya ketika ia dilemparkan ke dalam sumur. Namun detailnya tidak sepenuhnya cocok, dan Ratapan 3 tidak mengaitkan penderitaan tokohnya dengan tugas kenabian seperti dalam “Pengakuan Yeremia”. Selain itu, dalam Ratapan sering muncul kesan bahwa Tuhan sendiri melawan sang pembicara sesuatu yang dalam kitab Yeremia lebih kompleks dan tidak identik.

Karena itu, banyak penafsir memahami tokoh ini sebagai seorang laki-laki yang selamat dari kehancuran Yerusalem dan menyaksikan langsung reruntuhan kota itu. Ia bukan sekadar simbol bangsa, tetapi juga pribadi yang memiliki luka personal diejek oleh bangsanya sendiri dan dikejar oleh musuh. Namun pada saat yang sama, penderitaannya mencerminkan trauma komunal seluruh umat.

Struktur pasal ini pun unik. Ratapan 3 menggunakan pola akrostik alfabet Ibrani, tetapi berbeda dari pasal lain: setiap tiga baris dimulai dengan huruf yang sama. Pola ini memberi kesan intens dan mendesak seolah-olah pembaca diajak menyelami penderitaan itu secara mendalam dan sistematis, dari awal sampai akhir, dari “A sampai Z”. Seperti kamera yang memperbesar satu wajah, kisah pribadi ini menjadi jendela untuk melihat luka seluruh bangsa.

Tema-temanya juga memiliki kemiripan dengan pergumulan dalam Kitab Ayub dan sejumlah mazmur ratapan, seperti Mazmur 69 dan 102. Dalam Mazmur 102, misalnya, penderitaan pribadi berpadu dengan penderitaan Sion, sebelum kembali lagi kepada pergumulan individu. Pola yang sama terlihat dalam Ratapan 3: pengalaman personal dan pengalaman komunal saling berjalin.

Dengan demikian, Ratapan 3 bukan sekadar curahan hati seorang individu. Ia adalah suara yang berdiri di antara reruntuhan, menyuarakan trauma pribadi sekaligus luka bangsa. Dan melalui struktur akrostiknya yang teratur, pembaca diajak menelusuri seluruh spektrum emosi dari kehancuran terdalam hingga cahaya harapan yang perlahan muncul.

 

C.     Eksegesis Teks Ratapan 3:49-57

Teks Ratapan 3:49-57 merupakan bagian dari Ratapan yang menggambarkan kondisi hancur karena kehancuran Yerusalem pada masa pembuangan. Dalam teks ini tersaji keberanian seorang individu yang menyatakan penderitaannya melalui ratapan yang jujur sekaligus menyusul seruan kepada Tuhan dalam keadaan putus asa.

a.     Analisis Ayat 49-51: Penderitaan yang Tak Terhenti

Pada ayat 49–51 kita melihat gambaran penderitaan yang begitu dalam dan tak terhenti. Penulis melukiskan dirinya sebagai seseorang yang air matanya terus mengalir tanpa henti, tanpa jeda, sampai Tuhan sendiri memandang dari surga dan melihat keadaannya. Ini bukan sekadar ungkapan kesedihan biasa. Ini adalah jeritan jiwa yang merasa hancur, terasing, dan kehilangan pegangan setelah bangsa itu jatuh. Segala sesuatu yang dahulu menjadi kebanggaan identitas, budaya, bahkan kehidupan rohani seakan runtuh, dan harapan pun tampak semakin menjauh.

Namun di tengah derasnya air mata itu, tersembunyi suatu iman yang bertahan. Tangisan itu bukan tanda menyerah, melainkan bentuk penantian yang penuh pengharapan. Penulis bertekad untuk terus menangis sampai Allah bertindak. Seolah-olah setiap tetes air mata menjadi doa yang tidak terucapkan, sebuah seruan sunyi agar Tuhan turun tangan memulihkan Yerusalem yang telah dihancurkan dan mengumpulkan kembali umat yang tercerai-berai.

Air mata di sini bukan sekadar luapan emosi pribadi. Ia menjadi lambang penderitaan kolektif seluruh bangsa. Bahkan ketika ayat ini dapat dipahami sebagai ungkapan duka yang melampaui ratapan para perempuan Yerusalem, atau sebagai tangisan atas kehancuran kota-kota Yehuda, maknanya tetap mengarah pada satu hal: seluruh umat, tanpa terkecuali, turut merasakan luka yang sama. Laki-laki, perempuan, dan anak-anak semuanya terhimpit dalam penderitaan yang menyeluruh.

Karena itu, tangisan sang penyair bukan hanya miliknya sendiri. Ia menjadi suara bersama, suara satu pribadi yang berdiri di hadapan Allah sambil memikul beban seluruh umat. Dalam air mata itu ada pengakuan bahwa hanya Tuhan yang sanggup melihat, memahami, dan memulihkan. Dan justru di tengah ratapan itulah iman tetap menyala—iman yang percaya bahwa Allah tidak akan tinggal diam untuk selamanya.

b.     Analisis Ayat 52-54: Pengasingan dalam Kegelapan

Di ayat selanjutnya, penulis menggambarkan dirinya sebagai objek pengejaran dan penindasan:

"Musuh-musuhku memburu aku seperti burung tanpa alasan; mereka mencoba mengakhiri hidupku dalam lobang, mereka melempari aku dengan batu; air meluap atas kepalaku, aku berkata: 'Aku telah binasa!'"

Memasuki ayat 52–54, nada ratapan ini berubah menjadi kesaksian yang sangat pribadi. Penyair menggambarkan dirinya sebagai orang yang diburu tanpa alasan, seperti burung yang dikejar untuk ditangkap. Ia dijebak, dilempari, bahkan dilemparkan ke dalam lubang yang dalam, sehingga air meluap sampai ke atas kepalanya. Dalam keadaan itu ia hanya bisa berkata, “Aku telah binasa.” Gambaran ini begitu kuat seolah-olah maut sudah begitu dekat, napas hampir terhenti, dan tidak ada lagi jalan keluar.

Pengalaman ini mengingatkan kita pada kisah nabi yang pernah dipenjarakan dalam sumur berlumpur ditolak, dianiaya, dan hampir mati karena kesetiaannya menyampaikan firman Tuhan. Namun di sini, penderitaan itu bukan hanya kisah satu individu. Kesaksian ini dapat dibaca sebagai gambaran pengalaman kolektif umat, khususnya “sisa yang benar” mereka yang tetap bertobat dan berharap kepada Tuhan di tengah kehancuran.

Ungkapan tentang diburu, dijatuhkan ke dalam lubang, dan hampir tenggelam menyiratkan perasaan terpojok, terisolasi, dan seakan-akan ditinggalkan dari segala sumber pertolongan. Ini adalah pengalaman pengasingan dalam kegelapan bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin dan spiritual. Ketika seseorang atau suatu komunitas mengalami penindasan dan keterpinggiran, mereka sering merasa seperti berada di dasar lubang yang dalam, tanpa cahaya, tanpa pegangan, tanpa kepastian akan esok hari.

Namun justru di titik terdalam itulah suara iman sering lahir. Ketika manusia merasa sudah “binasa,” di situlah ia belajar berseru kepada Tuhan dengan kejujuran yang paling murni. Ayat-ayat ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak asing dengan pengalaman umat yang terhimpit. Ia mengenal jeritan mereka yang merasa tenggelam dalam arus penderitaan. Dan dari dasar lubang itulah, harapan akan pertolongan ilahi mulai bertunas.

c.     Analisis Ayat 55-57: Titik Balik Menuju Pengharapan

Pada ayat 55–57 terjadi perubahan teologis dan emosional yang sangat signifikan dalam struktur Ratapan 3. Setelah rangkaian gambaran tentang keterpurukan, ancaman kematian, dan rasa tercekik oleh penderitaan (ay. 52–54), teks beralih kepada seruan iman yang aktif:

“Aku memanggil nama-Mu, ya TUHAN, dari lobang yang paling dalam.
Engkau mendengar suaraku: ‘Janganlah tutup telinga-Mu terhadap keluh kesah dan teriakku.’ Engkau mendekat pada hari aku berseru; Engkau berkata: ‘Jangan takut!’”

Bagian ini menjadi titik balik dari deskripsi penderitaan menuju pengalaman kehadiran ilahi.

 1.     Pengakuan Diri dari Keterpurukan

Ungkapan “dari lobang yang paling dalam” (Ibrani: mibbôr taḥtiyyôt) bukan sekadar deskripsi geografis, melainkan metafora eksistensial. Dalam tradisi Perjanjian Lama, “lobang” sering melambangkan:

  • Dunia kematian (bdk. Mazmur 88:6)
  • Keterasingan total
  • Keputusasaan mendalam
  • Situasi tanpa harapan manusiawi

Yang penting di sini bukan hanya kondisi penderitaan, tetapi keputusan teologis sang penyair: ia memilih untuk berseru kepada TUHAN.

Kata kerja yang digunakan untuk “memanggil” memiliki rentang makna yang luas:

  • Berseru memohon pertolongan
  • Menyebut atau mengumumkan nama
  • Mengakui identitas dan karakter Allah

Dengan demikian, tindakan ini bukan sekadar doa spontan, tetapi tindakan iman yang sadar. Dalam budaya Israel, “nama” TUHAN mencakup:

  • Karakter-Nya (setia, adil, pengasih)
  • Reputasi-Nya dalam sejarah keselamatan
  • Kehadiran-Nya yang aktif
  • Kuasa dan otoritas-Nya

Memanggil nama TUHAN berarti mempercayakan diri sepenuhnya kepada siapa Allah itu.

Di sinilah awal pengharapan muncul: bukan karena keadaan berubah, tetapi karena orientasi hati berubah.

 Ungkapan itu menegaskan bahwa:

  • Tidak ada tempat yang terlalu dalam bagi Allah untuk mendengar.
  • Tidak ada keadaan yang terlalu gelap bagi Allah untuk mendekat.
  • Bahkan dari kondisi paling rendah sekalipun, doa tetap bisa naik kepada Tuhan.

Dengan kata lain:

Kedalaman penderitaan tidak membatasi jangkauan kasih dan kehadiran Allah.

 

2.     2. Respons Ilahi: Allah yang Mendengar dan Mendekat

Ayat 56–57 menegaskan dua tindakan Allah:

a.     Allah Mendengar

“Engkau mendengar suaraku…”

Di tengah pengalaman sebelumnya bahwa doa seakan-akan tertutup (bdk. Rat. 3:44), kini ditegaskan bahwa Allah tetap mendengar. Dalam teologi Perjanjian Lama, mendengar berarti:

  • Memperhatikan secara aktif
  • Mengakui relasi perjanjian
  • Bersiap untuk bertindak

Allah bukan hanya objek doa, tetapi Pribadi yang responsif.

b.     Allah Mendekat

“Engkau mendekat pada hari aku berseru…”

Kata “mendekat” menekankan relasi yang intim. Ini adalah bahasa kehadiran perjanjian. Dalam konteks kehancuran Yerusalem yang bisa ditafsirkan sebagai tanda bahwa Allah telah menjauh pernyataan ini sangat radikal: Allah ternyata tidak meninggalkan umat-Nya sepenuhnya.

 

3.   3. "Jangan Takut!” - Formula Teologis Pengharapan

Puncak bagian ini adalah pernyataan ilahi:

“Jangan takut!”

Ini adalah satu-satunya bagian dalam kitab Ratapan di mana Allah secara langsung dikatakan berbicara. Secara teologis, ini sangat penting.

Frasa ini memiliki akar kuat dalam tradisi penyataan Allah:

  • Kepada Abraham (Kej. 15:1)
  • Kepada Israel dalam pembebasan (Kel. 14:13)
  • Kepada para nabi dan umat dalam krisis

Dalam kerangka teologi “Imanuel” (Allah beserta kita), perintah “Jangan takut” bukan sekadar nasihat psikologis, melainkan deklarasi kehadiran ilahi.

Takut lenyap bukan karena situasi berubah, tetapi karena Allah hadir.

 Signifikansi Teologis : Ayat 55–57 menunjukkan bahwa:

  1. Penderitaan tidak menghalangi relasi dengan Allah.
  2. Doa tetap memiliki makna bahkan ketika terasa tidak dijawab.
  3. Kehadiran Allah lebih mendasar daripada perubahan keadaan.
  4. Pengharapan lahir dari relasi, bukan dari kondisi eksternal.

Dengan demikian, bagian ini menjadi titik balik dari keputusasaan menuju kepercayaan. Ratapan tidak berhenti pada keluhan, tetapi bergerak menuju keyakinan bahwa Allah tetap setia.

Di tengah “lobang terdalam,” suara iman masih dapat terdengar—dan Allah tetap menjawab.

 

D.    Refleksi Teologis dan Konteks Keliberasian

Perikop Ratapan 3:49–57 membawa kita masuk ke dalam permenungan yang dalam tentang hubungan antara penderitaan, pengakuan iman, dan kehadiran Allah. Teks ini memperlihatkan bahwa dalam dinamika iman, ratapan dan pujian bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua gerak rohani yang saling melengkapi. Justru melalui ratapan yang jujur, jalan menuju pengharapan dan pujian dibukakan.

a.     Esensi Ratapan dalam Iman Kristen

Ratapan adalah keberanian untuk berkata jujur di hadapan Tuhan. Ia adalah pengakuan bahwa hidup tidak selalu utuh; ada luka, ada kehilangan, ada kehancuran yang tidak bisa disangkal. Namun ratapan bukanlah tanda lemahnya iman. Sebaliknya, ratapan adalah tindakan iman itu sendiri karena di dalamnya kita tetap datang kepada Tuhan, bukan menjauh dari-Nya.

Sebagaimana ditegaskan oleh Dan Epp-Tiessen, kata-kata ratapan yang diucapkan dalam ibadah bersama memiliki daya yang hampir sakramental: ia membuka ruang bagi aliran kasih karunia Allah menghadirkan kekuatan, penghiburan, penyembuhan, dan pembaruan.[3] Dengan demikian, ketika gereja meratap, gereja sedang mengizinkan kasih karunia Allah bekerja di tengah luka. Ratapan menjadi jembatan antara penderitaan manusia dan belas kasihan ilahi.

b.     Pujian sebagai Tindakan Perlawanan dan Pengakuan Kedaulatan Allah

Di sisi lain, pujian muncul bukan sebagai penyangkalan atas realitas pahit, melainkan sebagai tindakan perlawanan iman. Di tengah dunia yang dipenuhi penderitaan, memuji Tuhan berarti menegaskan bahwa penderitaan bukanlah penguasa terakhir. Pujian mengarahkan kembali pandangan kita dari keterbatasan diri menuju kedaulatan Allah.

Epp-Tiessen juga menegaskan bahwa pujian memiliki kuasa untuk mengalihkan fokus kita dari diri sendiri kepada Tuhan. Dalam terang ini, pujian di tengah penderitaan bukanlah ilusi rohani, melainkan deklarasi iman: bahwa Allah tetap setia, tetap berdaulat, dan tetap bekerja, bahkan ketika kita belum melihat perubahan keadaan.

c.     Pergeseran dari Ratapan ke Pujian

Jika kita memperhatikan struktur banyak mazmur ratapan dan juga kitab Ratapan, kita akan menemukan pola yang berulang: dari jeritan yang dalam menuju pengakuan iman yang teguh. Tidak jarang, mazmur yang dimulai dengan keluh kesah justru diakhiri dengan pujian. Pola ini menunjukkan bahwa penderitaan bukanlah titik akhir perjalanan iman, melainkan ruang perjumpaan dengan Allah.

Perpindahan dari ratapan menuju pujian mengajarkan bahwa iman tidak berhenti pada pengakuan kegagalan atau kesakitan. Iman bertumbuh justru ketika kita berani mengakui kelemahan dan menemukan bahwa Tuhan mendekat di sana. Dalam pengakuan akan kerapuhan, kita mengalami kedekatan ilahi yang memulihkan.

d.     Hermeneutika Pembebasan dan Pendekatan Kontekstual

Dalam kerangka pembacaan kontekstual seperti yang dikembangkan oleh Gerald O. West melalui pendekatan Contextual Bible Study (CBS), Alkitab dibaca bukan hanya sebagai teks kuno, tetapi sebagai dialog hidup antara firman dan konteks umat masa kini.[4] Pembacaan ini melibatkan “pembaca biasa” bersama para penafsir, sehingga pengalaman sosial termasuk penindasan dan keterpinggiran menjadi bagian penting dalam memahami teks.

Dalam terang pendekatan ini, Ratapan 3:49–57 tidak hanya berbicara tentang pengalaman pribadi seorang penyair. Ia menjadi suara komunitas yang tertindas, yang terluka secara sosial, politik, dan spiritual. Ratapan mereka adalah ratapan kolektif. Dan di tengah konteks itulah pengakuan, “Engkau mendekat ketika aku berseru,” menjadi pernyataan yang revolusioner.

Artinya, bahkan dalam kelemahan dan keterhimpitan umat, Allah tidak menjauh. Ia hadir. Ia mendekat. Ia berbicara, “Jangan takut.” Maka ratapan berubah menjadi ruang pembebasan tempat di mana umat yang tertindas menemukan bahwa Tuhan berpihak, menghibur, dan memulihkan.

 Kesimpulan

Ratapan 3:49-57 mengajarkan kepada kita bahwa kebenaran iman terletak pada keberanian untuk mengakui penderitaan sekaligus mengangkat seruan kepada Tuhan. Di tengah air mata dan kesakitan yang tampak tak berkesudahan, ada janji bahwa Tuhan mendekat ketika kita memanggil-Nya. Dari analisis mendalam teks tersebut serta refleksi teologis melalui lensa pembacaan kontekstual dan hermeneutika pembebasan, kita mengambil beberapa poin penting:

  • Pengakuan Penderitaan: Ratapan merupakan ungkapan kejujuran hati yang mengakui keretakan dan penderitaan. Hal ini merupakan langkah awal untuk menerima penyembuhan ilahi.
  • Respon Ilahi: Tuhan tidak tinggal diam. Dalam kondisi paling ekstrim, ketika kita merasa terkurung dalam "lobang" penderitaan, Tuhan mendengar seruan kita dan memberikan pesan penghiburan: "Jangan takut!"
  • Integrasi Ratapan dan Pujian: Seperti yang diungkap oleh Epp-Tiessen, ratapan harus diintegrasikan dengan pujian agar iman kita tidak jatuh ke dalam keputusasaan, melainkan mengarah pada kepercayaan yang lebih dalam dan tindakan nyata.
  • Aplikasi Kontekstual: Pendekatan Contextual Bible Study (CBS) yang bersifat dialogis dan partisipatif memungkinkan umat untuk menanggapi penderitaan dengan menggabungkan analisis sosial, refleksi biblika, dan tindakan konkret. Ini sangat relevan bagi kehidupan gereja masa kini, terutama bagi generasi muda yang tengah mencari akar identitas dan harapan.

Dalam dunia di mana penderitaan dan ketidakpastian sering kali menjadi bagian dari kehidupan, pesan "Tuhan Dekat Tatkala Aku Memanggil" mengingatkan kita bahwa dalam setiap ratapan, dalam setiap seruan yang tulus, Tuhan selalu mendekat. Marilah kita, sebagai gereja, menciptakan ruang bagi setiap individu untuk mengungkapkan penderitaan mereka dan pada saat yang sama memperkuat iman melalui pujian kepada Tuhan. Dengan begitu, kita tidak hanya menguatkan satu sama lain, tetapi juga mengukuhkan janji bahwa kasih dan penyertaan Tuhan adalah nyata dan hidup, bahkan di tengah keterpurukan.

Semoga khotbah ini dapat menginspirasi kita semua untuk terus mencari Tuhan dalam setiap keadaan—baik dalam air mata yang mengalir, maupun dalam pujian yang menguatkan. Tuhan selalu dekat, dan Dia mendengar setiap seruan dari hati yang tulus. Amin.



[1] Adele Berlin, Lamentations: A Commentary (Old Testament Library). Westminster John Knox Press, 2002., 97.

[2] Frederick William Dobbs-Allsopp, Lamentations: Interpretation: A Bible Commentary for Teaching and Preaching. Westminster John Knox Press, 2002., 126–127

[3] Epp-Tiessen, Dan. "Praise and lament in the face of death." Vision, Spring 2004: 33–40.

[4] Gerald O. West, "Locating'Contextual Bible Study'within biblical liberation hermeneutics and intercultural biblical hermeneutics." HTS: Theological Studies 70.1 (2014): 1-10. https://doi.org/10.4102/hts.v70i1.2641

“Notifikasi Tuhan vs Notifikasi Instagram” 1 Raja 19:1-18 Pdt. Jeppri Nainggolan, M.Th.

Pendahuluan Banyak penelitian tentang pelayanan pemuda di era digital menunjukkan bahwa media sosial menciptakan banyak distraksi yang memen...