Ibadah Minggu I Pra-Paskah (Minggu Pertama dalam Masa Prapaskah
A.
Pendahuluan
Saudara-saudari
yang terkasih dalam Tuhan,
Kitab Ratapan lahir dari situasi seperti itu. Yerusalem hancur. Bait Allah terbakar. Bangsa yang dahulu disebut umat pilihan kini tercerai-berai. Tidak ada kemuliaan, tidak ada keamanan, tidak ada kepastian. Yang tersisa hanyalah reruntuhan, tangisan, dan pertanyaan besar tentang kehadiran Allah.
Namun di tengah kehancuran itu, muncul satu suara yang berbeda. Suara seorang yang berkata:
“Aku memanggil nama-Mu, ya TUHAN,
dari lobang yang paling dalam… Engkau mendekat pada hari aku berseru; Engkau
berkata: ‘Jangan takut!’”
Inilah
kabar yang mengejutkan:
Tuhan tidak jauh ketika kita
berseru dari kedalaman.
Justru di sana di titik paling
rendah, di saat paling gelap Ia mendekat.
Tema kita hari ini, “Tuhan Dekat Tatkala Aku Memanggil,” bukanlah janji bahwa masalah langsung hilang. Bukan juga jaminan bahwa penderitaan segera berakhir. Tetapi ini adalah deklarasi iman bahwa di tengah air mata yang tak berhenti, Allah tetap mendengar, tetap hadir, dan tetap berbicara: “Jangan takut.”
Hari
ini kita akan melihat bagaimana:
- Seruan dari kedalaman menjadi
titik balik iman,
- Kehadiran Allah lebih kuat
daripada rasa takut,
- Dan pengharapan lahir bukan karena
keadaan berubah, tetapi karena Allah mendekat.
B. Konteks Historis dan Teologis
Pada zamannya, kitab
Ratapan ditulis dalam konteks kehancuran Yerusalem dan pembuangan yang
menyebabkan trauma kolektif bagi bangsa Israel. Penderitaan yang digambarkan
dalam teks ini merupakan refleksi dari kehilangan identitas nasional, sosial,
dan spiritual. Namun, meskipun menghadirkan gambaran duka yang mendalam, teks
ini juga menekankan bahwa dalam penderitaan sekalipun, Tuhan tetap hadir. Hal
ini sejalan dengan prinsip-prinsip pembacaan kontekstual, di mana konteks
sosial dan historis tidak diabaikan, melainkan dijadikan dasar untuk memperoleh
makna dan apresiasi terhadap pesan ilahi.
Konteks Ratapan 3
Ratapan 3 memiliki
karakter yang cukup berbeda dibandingkan dua pasal sebelumnya. Pasal ini
terdiri dari enam puluh enam ayat, namun panjang keseluruhannya kurang lebih
sama karena setiap ayat lebih singkat. Sejak awal sudah terasa perbedaannya,
karena pasal ini dibuka dengan pernyataan yang sangat personal: “Akulah orang
yang telah melihat penderitaan.” Fokusnya bukan lagi langsung pada kota,
melainkan pada seorang individu yang berbicara dari kedalaman pengalaman
pribadinya.
Di dalamnya kita
menemukan kontras yang tajam: dari keputusasaan menuju harapan, dari perasaan
ditinggalkan Allah menuju keyakinan akan keselamatan-Nya. Ratapan 3 memadukan
kegelapan dan terang dalam satu tarikan napas. Ada ayat-ayat yang begitu suram,
tetapi di tengahnya muncul pengakuan iman yang sangat kuat dan penuh
pengharapan.
Salah satu perdebatan
utama dalam penafsiran pasal ini adalah mengenai identitas “pria” yang
berbicara. Ada yang mengusulkan bahwa ia adalah nabi Yeremia, mengingat
beberapa kemiripan pengalaman seperti pernah dilemparkan ke dalam sumur. Ada
pula yang berpendapat bahwa ia mungkin seorang raja Yehuda seperti Yoyakhin
atau Zedekia. Sebagian melihatnya sebagai personifikasi Sion dalam bentuk
laki-laki, atau sebagai “manusia universal” yang mewakili seluruh bangsa.
Menurut Adele Berlin,
tokoh “pria” ini dapat dipahami sebagai pasangan dari suara perempuan kota
dalam Ratapan 1. Jika pasal pertama menghadirkan Yerusalem sebagai perempuan
yang meratap, maka pasal ketiga menghadirkan suara laki-laki sebagai
penyeimbangnya.[1]
Bahkan, tokoh ini dinilai memiliki kemiripan dengan figur Ayub seseorang yang
bergumul dengan penderitaan yang tampaknya datang dari tangan Tuhan sendiri
Sementara itu, F. W.
Dobbs-Allsopp melihat adanya keseimbangan gender yang disengaja: suara
laki-laki di pasal 3 melengkapi sekaligus mengontraskan suara perempuan Sion.
Penderitaan tidak hanya menimpa satu kelompok; ia melanda laki-laki dan
perempuan, seluruh komunitas tanpa kecuali.[2]
Menariknya, dalam
Ratapan 3 terjadi pergeseran kata ganti dari “aku” menjadi “kami” dan “kita”.
Meski demikian, Dobbs-Allsopp berpendapat bahwa tetap ada satu pengarang,
sebagaimana juga ditemukan dalam beberapa mazmur ratapan (misalnya Kitab Mazmur
44; 74; 123). Dengan demikian, pengalaman pribadi sang “pria” perlahan-lahan
melebur menjadi pengalaman bersama. Suaranya berubah menjadi suara
kolektif dari “aku” menjadi “kita”.
Apakah mungkin
pembicara ini adalah Yeremia? Memang ada kemiripan dengan pengalaman yang
dicatat dalam Kitab Yeremia, khususnya ketika ia dilemparkan ke dalam sumur.
Namun detailnya tidak sepenuhnya cocok, dan Ratapan 3 tidak mengaitkan
penderitaan tokohnya dengan tugas kenabian seperti dalam “Pengakuan Yeremia”.
Selain itu, dalam Ratapan sering muncul kesan bahwa Tuhan sendiri melawan sang
pembicara sesuatu yang dalam kitab Yeremia lebih kompleks dan tidak identik.
Karena itu, banyak
penafsir memahami tokoh ini sebagai seorang laki-laki yang selamat dari
kehancuran Yerusalem dan menyaksikan langsung reruntuhan kota itu. Ia bukan
sekadar simbol bangsa, tetapi juga pribadi yang memiliki luka personal diejek
oleh bangsanya sendiri dan dikejar oleh musuh. Namun pada saat yang sama,
penderitaannya mencerminkan trauma komunal seluruh umat.
Struktur pasal ini pun
unik. Ratapan 3 menggunakan pola akrostik alfabet Ibrani, tetapi berbeda dari
pasal lain: setiap tiga baris dimulai dengan huruf yang sama. Pola ini memberi
kesan intens dan mendesak seolah-olah pembaca diajak menyelami penderitaan itu
secara mendalam dan sistematis, dari awal sampai akhir, dari “A sampai Z”.
Seperti kamera yang memperbesar satu wajah, kisah pribadi ini menjadi jendela
untuk melihat luka seluruh bangsa.
Tema-temanya juga
memiliki kemiripan dengan pergumulan dalam Kitab Ayub dan sejumlah mazmur
ratapan, seperti Mazmur 69 dan 102. Dalam Mazmur 102, misalnya, penderitaan
pribadi berpadu dengan penderitaan Sion, sebelum kembali lagi kepada pergumulan
individu. Pola yang sama terlihat dalam Ratapan 3: pengalaman personal dan pengalaman
komunal saling berjalin.
Dengan demikian,
Ratapan 3 bukan sekadar curahan hati seorang individu. Ia adalah suara yang
berdiri di antara reruntuhan, menyuarakan trauma pribadi sekaligus luka bangsa.
Dan melalui struktur akrostiknya yang teratur, pembaca diajak menelusuri
seluruh spektrum emosi dari kehancuran terdalam hingga cahaya harapan yang
perlahan muncul.
C.
Eksegesis Teks Ratapan 3:49-57
Teks Ratapan 3:49-57
merupakan bagian dari Ratapan yang menggambarkan kondisi hancur karena
kehancuran Yerusalem pada masa pembuangan. Dalam teks ini tersaji keberanian
seorang individu yang menyatakan penderitaannya melalui ratapan yang jujur
sekaligus menyusul seruan kepada Tuhan dalam keadaan putus asa.
a.
Analisis Ayat 49-51: Penderitaan
yang Tak Terhenti
Pada ayat 49–51 kita
melihat gambaran penderitaan yang begitu dalam dan tak terhenti. Penulis
melukiskan dirinya sebagai seseorang yang air matanya terus mengalir tanpa
henti, tanpa jeda, sampai Tuhan sendiri memandang dari surga dan melihat
keadaannya. Ini bukan sekadar ungkapan kesedihan biasa. Ini adalah jeritan jiwa
yang merasa hancur, terasing, dan kehilangan pegangan setelah bangsa itu jatuh.
Segala sesuatu yang dahulu menjadi kebanggaan identitas, budaya, bahkan
kehidupan rohani seakan runtuh, dan harapan pun tampak semakin menjauh.
Namun di tengah
derasnya air mata itu, tersembunyi suatu iman yang bertahan. Tangisan itu bukan
tanda menyerah, melainkan bentuk penantian yang penuh pengharapan. Penulis
bertekad untuk terus menangis sampai Allah bertindak. Seolah-olah setiap tetes
air mata menjadi doa yang tidak terucapkan, sebuah seruan sunyi agar Tuhan
turun tangan memulihkan Yerusalem yang telah dihancurkan dan mengumpulkan
kembali umat yang tercerai-berai.
Air mata di sini bukan
sekadar luapan emosi pribadi. Ia menjadi lambang penderitaan kolektif seluruh
bangsa. Bahkan ketika ayat ini dapat dipahami sebagai ungkapan duka yang
melampaui ratapan para perempuan Yerusalem, atau sebagai tangisan atas
kehancuran kota-kota Yehuda, maknanya tetap mengarah pada satu hal: seluruh
umat, tanpa terkecuali, turut merasakan luka yang sama. Laki-laki, perempuan,
dan anak-anak semuanya terhimpit dalam penderitaan yang menyeluruh.
Karena itu, tangisan
sang penyair bukan hanya miliknya sendiri. Ia menjadi suara bersama, suara satu
pribadi yang berdiri di hadapan Allah sambil memikul beban seluruh umat. Dalam
air mata itu ada pengakuan bahwa hanya Tuhan yang sanggup melihat, memahami,
dan memulihkan. Dan justru di tengah ratapan itulah iman tetap menyala—iman
yang percaya bahwa Allah tidak akan tinggal diam untuk selamanya.
b.
Analisis Ayat 52-54: Pengasingan
dalam Kegelapan
Di ayat selanjutnya,
penulis menggambarkan dirinya sebagai objek pengejaran dan penindasan:
"Musuh-musuhku
memburu aku seperti burung tanpa alasan; mereka mencoba mengakhiri hidupku
dalam lobang, mereka melempari aku dengan batu; air meluap atas kepalaku, aku
berkata: 'Aku telah binasa!'"
Memasuki ayat 52–54,
nada ratapan ini berubah menjadi kesaksian yang sangat pribadi. Penyair
menggambarkan dirinya sebagai orang yang diburu tanpa alasan, seperti burung
yang dikejar untuk ditangkap. Ia dijebak, dilempari, bahkan dilemparkan ke
dalam lubang yang dalam, sehingga air meluap sampai ke atas kepalanya. Dalam
keadaan itu ia hanya bisa berkata, “Aku telah binasa.” Gambaran ini begitu kuat
seolah-olah maut sudah begitu dekat, napas hampir terhenti, dan tidak ada lagi
jalan keluar.
Pengalaman ini
mengingatkan kita pada kisah nabi yang pernah dipenjarakan dalam sumur
berlumpur ditolak, dianiaya, dan hampir mati karena kesetiaannya menyampaikan
firman Tuhan. Namun di sini, penderitaan itu bukan hanya kisah satu individu.
Kesaksian ini dapat dibaca sebagai gambaran pengalaman kolektif umat, khususnya
“sisa yang benar” mereka yang tetap bertobat dan berharap kepada Tuhan di
tengah kehancuran.
Ungkapan tentang
diburu, dijatuhkan ke dalam lubang, dan hampir tenggelam menyiratkan perasaan
terpojok, terisolasi, dan seakan-akan ditinggalkan dari segala sumber
pertolongan. Ini adalah pengalaman pengasingan dalam kegelapan bukan hanya
secara fisik, tetapi juga secara batin dan spiritual. Ketika seseorang atau
suatu komunitas mengalami penindasan dan keterpinggiran, mereka sering merasa
seperti berada di dasar lubang yang dalam, tanpa cahaya, tanpa pegangan, tanpa
kepastian akan esok hari.
Namun justru di titik
terdalam itulah suara iman sering lahir. Ketika manusia merasa sudah “binasa,”
di situlah ia belajar berseru kepada Tuhan dengan kejujuran yang paling murni.
Ayat-ayat ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak asing dengan pengalaman umat
yang terhimpit. Ia mengenal jeritan mereka yang merasa tenggelam dalam arus
penderitaan. Dan dari dasar lubang itulah, harapan akan pertolongan ilahi mulai
bertunas.
c.
Analisis Ayat 55-57: Titik Balik
Menuju Pengharapan
Pada
ayat 55–57 terjadi perubahan teologis dan emosional yang sangat signifikan
dalam struktur Ratapan 3. Setelah rangkaian gambaran tentang keterpurukan,
ancaman kematian, dan rasa tercekik oleh penderitaan (ay. 52–54), teks beralih
kepada seruan iman yang aktif:
“Aku memanggil nama-Mu, ya TUHAN, dari lobang yang
paling dalam.
Engkau mendengar suaraku: ‘Janganlah tutup telinga-Mu terhadap keluh kesah dan
teriakku.’ Engkau mendekat pada hari aku berseru; Engkau berkata: ‘Jangan
takut!’”
Bagian
ini menjadi titik balik dari deskripsi penderitaan menuju pengalaman kehadiran
ilahi.
1. Pengakuan Diri dari Keterpurukan
Ungkapan
“dari lobang yang paling dalam” (Ibrani: mibbôr taḥtiyyôt) bukan sekadar
deskripsi geografis, melainkan metafora eksistensial. Dalam tradisi Perjanjian
Lama, “lobang” sering melambangkan:
- Dunia kematian (bdk. Mazmur 88:6)
- Keterasingan total
- Keputusasaan mendalam
- Situasi tanpa harapan manusiawi
Yang
penting di sini bukan hanya kondisi penderitaan, tetapi keputusan teologis sang
penyair: ia memilih untuk berseru kepada TUHAN.
Kata
kerja yang digunakan untuk “memanggil” memiliki rentang makna yang luas:
- Berseru memohon pertolongan
- Menyebut atau mengumumkan nama
- Mengakui identitas dan karakter
Allah
Dengan
demikian, tindakan ini bukan sekadar doa spontan, tetapi tindakan iman yang
sadar. Dalam budaya Israel, “nama” TUHAN mencakup:
- Karakter-Nya (setia, adil,
pengasih)
- Reputasi-Nya dalam sejarah
keselamatan
- Kehadiran-Nya yang aktif
- Kuasa dan otoritas-Nya
Memanggil
nama TUHAN berarti mempercayakan diri sepenuhnya kepada siapa Allah itu.
Di
sinilah awal pengharapan muncul: bukan karena keadaan berubah, tetapi karena
orientasi hati berubah.
Ungkapan itu menegaskan bahwa:
- Tidak ada tempat yang terlalu
dalam bagi Allah untuk mendengar.
- Tidak ada keadaan yang terlalu
gelap bagi Allah untuk mendekat.
- Bahkan dari kondisi paling rendah
sekalipun, doa tetap bisa naik kepada Tuhan.
Dengan
kata lain:
Kedalaman
penderitaan tidak membatasi jangkauan kasih dan kehadiran Allah.
Ayat
56–57 menegaskan dua tindakan Allah:
a. Allah
Mendengar
“Engkau
mendengar suaraku…”
Di
tengah pengalaman sebelumnya bahwa doa seakan-akan tertutup (bdk. Rat. 3:44),
kini ditegaskan bahwa Allah tetap mendengar. Dalam teologi Perjanjian Lama,
mendengar berarti:
- Memperhatikan secara aktif
- Mengakui relasi perjanjian
- Bersiap untuk bertindak
Allah
bukan hanya objek doa, tetapi Pribadi yang responsif.
b. Allah
Mendekat
“Engkau
mendekat pada hari aku berseru…”
Kata
“mendekat” menekankan relasi yang intim. Ini adalah bahasa kehadiran
perjanjian. Dalam konteks kehancuran Yerusalem yang bisa ditafsirkan sebagai
tanda bahwa Allah telah menjauh pernyataan ini sangat radikal: Allah
ternyata tidak meninggalkan umat-Nya sepenuhnya.
Puncak
bagian ini adalah pernyataan ilahi:
“Jangan
takut!”
Ini
adalah satu-satunya bagian dalam kitab Ratapan di mana Allah secara langsung
dikatakan berbicara. Secara teologis, ini sangat penting.
Frasa
ini memiliki akar kuat dalam tradisi penyataan Allah:
- Kepada Abraham (Kej. 15:1)
- Kepada Israel dalam pembebasan
(Kel. 14:13)
- Kepada para nabi dan umat dalam
krisis
Dalam
kerangka teologi “Imanuel” (Allah beserta kita), perintah “Jangan takut” bukan
sekadar nasihat psikologis, melainkan deklarasi kehadiran ilahi.
Takut
lenyap bukan karena situasi berubah, tetapi karena Allah hadir.
Signifikansi Teologis : Ayat 55–57 menunjukkan bahwa:
- Penderitaan tidak menghalangi
relasi dengan Allah.
- Doa tetap memiliki makna bahkan
ketika terasa tidak dijawab.
- Kehadiran Allah lebih mendasar
daripada perubahan keadaan.
- Pengharapan lahir dari relasi,
bukan dari kondisi eksternal.
Dengan
demikian, bagian ini menjadi titik balik dari keputusasaan menuju kepercayaan.
Ratapan tidak berhenti pada keluhan, tetapi bergerak menuju keyakinan bahwa
Allah tetap setia.
Di
tengah “lobang terdalam,” suara iman masih dapat terdengar—dan Allah tetap
menjawab.
D.
Refleksi Teologis dan Konteks
Keliberasian
Perikop
Ratapan 3:49–57 membawa kita masuk ke dalam permenungan yang dalam tentang
hubungan antara penderitaan, pengakuan iman, dan kehadiran Allah. Teks ini
memperlihatkan bahwa dalam dinamika iman, ratapan dan pujian bukanlah dua hal
yang saling bertentangan, melainkan dua gerak rohani yang saling melengkapi.
Justru melalui ratapan yang jujur, jalan menuju pengharapan dan pujian
dibukakan.
a.
Esensi Ratapan dalam Iman Kristen
Ratapan adalah
keberanian untuk berkata jujur di hadapan Tuhan. Ia adalah pengakuan bahwa
hidup tidak selalu utuh; ada luka, ada kehilangan, ada kehancuran yang tidak
bisa disangkal. Namun ratapan bukanlah tanda lemahnya iman. Sebaliknya, ratapan
adalah tindakan iman itu sendiri karena di dalamnya kita tetap datang kepada
Tuhan, bukan menjauh dari-Nya.
Sebagaimana ditegaskan
oleh Dan Epp-Tiessen, kata-kata ratapan yang diucapkan dalam ibadah bersama
memiliki daya yang hampir sakramental: ia membuka ruang bagi aliran kasih
karunia Allah menghadirkan kekuatan, penghiburan, penyembuhan, dan pembaruan.[3]
Dengan demikian, ketika gereja meratap, gereja sedang mengizinkan kasih karunia
Allah bekerja di tengah luka. Ratapan menjadi jembatan antara penderitaan
manusia dan belas kasihan ilahi.
b.
Pujian sebagai Tindakan Perlawanan
dan Pengakuan Kedaulatan Allah
Di sisi lain, pujian
muncul bukan sebagai penyangkalan atas realitas pahit, melainkan sebagai
tindakan perlawanan iman. Di tengah dunia yang dipenuhi penderitaan, memuji
Tuhan berarti menegaskan bahwa penderitaan bukanlah penguasa terakhir. Pujian
mengarahkan kembali pandangan kita dari keterbatasan diri menuju kedaulatan
Allah.
Epp-Tiessen juga
menegaskan bahwa pujian memiliki kuasa untuk mengalihkan fokus kita dari diri
sendiri kepada Tuhan. Dalam terang ini, pujian di tengah penderitaan bukanlah
ilusi rohani, melainkan deklarasi iman: bahwa Allah tetap setia, tetap
berdaulat, dan tetap bekerja, bahkan ketika kita belum melihat perubahan
keadaan.
c.
Pergeseran dari Ratapan ke Pujian
Jika kita
memperhatikan struktur banyak mazmur ratapan dan juga kitab Ratapan, kita akan
menemukan pola yang berulang: dari jeritan yang dalam menuju pengakuan iman
yang teguh. Tidak jarang, mazmur yang dimulai dengan keluh kesah justru
diakhiri dengan pujian. Pola ini menunjukkan bahwa penderitaan bukanlah titik
akhir perjalanan iman, melainkan ruang perjumpaan dengan Allah.
Perpindahan dari
ratapan menuju pujian mengajarkan bahwa iman tidak berhenti pada pengakuan
kegagalan atau kesakitan. Iman bertumbuh justru ketika kita berani mengakui
kelemahan dan menemukan bahwa Tuhan mendekat di sana. Dalam pengakuan akan
kerapuhan, kita mengalami kedekatan ilahi yang memulihkan.
d.
Hermeneutika Pembebasan dan
Pendekatan Kontekstual
Dalam kerangka
pembacaan kontekstual seperti yang dikembangkan oleh Gerald O. West melalui
pendekatan Contextual Bible Study (CBS), Alkitab dibaca bukan hanya sebagai
teks kuno, tetapi sebagai dialog hidup antara firman dan konteks umat masa
kini.[4]
Pembacaan ini melibatkan “pembaca biasa” bersama para penafsir, sehingga
pengalaman sosial termasuk penindasan dan keterpinggiran menjadi bagian penting
dalam memahami teks.
Dalam terang
pendekatan ini, Ratapan 3:49–57 tidak hanya berbicara tentang pengalaman
pribadi seorang penyair. Ia menjadi suara komunitas yang tertindas, yang
terluka secara sosial, politik, dan spiritual. Ratapan mereka adalah ratapan
kolektif. Dan di tengah konteks itulah pengakuan, “Engkau mendekat ketika aku
berseru,” menjadi pernyataan yang revolusioner.
Artinya, bahkan dalam
kelemahan dan keterhimpitan umat, Allah tidak menjauh. Ia hadir. Ia mendekat.
Ia berbicara, “Jangan takut.” Maka ratapan berubah menjadi ruang pembebasan tempat
di mana umat yang tertindas menemukan bahwa Tuhan berpihak, menghibur, dan
memulihkan.
Kesimpulan
Ratapan 3:49-57
mengajarkan kepada kita bahwa kebenaran iman terletak pada keberanian untuk
mengakui penderitaan sekaligus mengangkat seruan kepada Tuhan. Di tengah air
mata dan kesakitan yang tampak tak berkesudahan, ada janji bahwa Tuhan mendekat
ketika kita memanggil-Nya. Dari analisis mendalam teks tersebut serta refleksi
teologis melalui lensa pembacaan kontekstual dan hermeneutika pembebasan, kita
mengambil beberapa poin penting:
- Pengakuan Penderitaan:
Ratapan merupakan ungkapan kejujuran hati yang mengakui keretakan dan
penderitaan. Hal ini merupakan langkah awal untuk menerima penyembuhan
ilahi.
- Respon Ilahi:
Tuhan tidak tinggal diam. Dalam kondisi paling ekstrim, ketika kita merasa
terkurung dalam "lobang" penderitaan, Tuhan mendengar seruan
kita dan memberikan pesan penghiburan: "Jangan takut!"
- Integrasi Ratapan dan Pujian:
Seperti yang diungkap oleh Epp-Tiessen, ratapan harus diintegrasikan
dengan pujian agar iman kita tidak jatuh ke dalam keputusasaan, melainkan
mengarah pada kepercayaan yang lebih dalam dan tindakan nyata.
- Aplikasi Kontekstual:
Pendekatan Contextual Bible Study (CBS) yang bersifat dialogis dan
partisipatif memungkinkan umat untuk menanggapi penderitaan dengan
menggabungkan analisis sosial, refleksi biblika, dan tindakan konkret. Ini
sangat relevan bagi kehidupan gereja masa kini, terutama bagi generasi
muda yang tengah mencari akar identitas dan harapan.
Dalam dunia di mana
penderitaan dan ketidakpastian sering kali menjadi bagian dari kehidupan, pesan
"Tuhan Dekat Tatkala Aku Memanggil" mengingatkan kita bahwa dalam
setiap ratapan, dalam setiap seruan yang tulus, Tuhan selalu mendekat. Marilah
kita, sebagai gereja, menciptakan ruang bagi setiap individu untuk
mengungkapkan penderitaan mereka dan pada saat yang sama memperkuat iman
melalui pujian kepada Tuhan. Dengan begitu, kita tidak hanya menguatkan satu
sama lain, tetapi juga mengukuhkan janji bahwa kasih dan penyertaan Tuhan
adalah nyata dan hidup, bahkan di tengah keterpurukan.
Semoga khotbah ini
dapat menginspirasi kita semua untuk terus mencari Tuhan dalam setiap
keadaan—baik dalam air mata yang mengalir, maupun dalam pujian yang menguatkan.
Tuhan selalu dekat, dan Dia mendengar setiap seruan dari hati yang tulus. Amin.
[1] Adele Berlin, Lamentations: A Commentary (Old
Testament Library). Westminster John Knox Press, 2002., 97.
[2] Frederick William Dobbs-Allsopp, Lamentations:
Interpretation: A Bible Commentary for Teaching and Preaching. Westminster John
Knox Press, 2002., 126–127
[3] Epp-Tiessen, Dan. "Praise and lament in the
face of death." Vision, Spring 2004: 33–40.
[4] Gerald O. West, "Locating'Contextual Bible
Study'within biblical liberation hermeneutics and intercultural biblical
hermeneutics." HTS: Theological Studies 70.1 (2014): 1-10. https://doi.org/10.4102/hts.v70i1.2641

