Pendahuluan
Saudara-saudari yang
dikasihi di dalam Tuhan Yesus Kristus,
Hidup sebagai umat Tuhan
di tengah dunia yang telah jatuh ke dalam dosa menuntut kesetiaan yang
terus-menerus. Setiap hari kita diperhadapkan pada pilihan-pilihan yang menguji
siapa yang menjadi pusat hidup kita apakah Tuhan dan Firman-Nya, ataukah keinginan
diri dan nilai-nilai dunia. Ada saat ketika kita tampak kuat secara rohani,
namun tidak jarang kita tergoda untuk melonggarkan ketaatan demi kenyamanan dan
penerimaan dunia.
Dalam konteks inilah Firman Tuhan dari 1 Raja-raja 2:3 berbicara dengan sangat relevan. Ayat ini merupakan pesan terakhir Raja Daud kepada Salomo, anaknya, yang akan melanjutkan tongkat kepemimpinan atas umat Allah. Daud menegaskan bahwa keberhasilan dan arah hidup Salomo tidak bergantung terutama pada hikmat politik atau kekuatan pribadi, melainkan pada kesetiaannya untuk hidup menurut kehendak Tuhan, taat kepada ketetapan dan hukum-Nya.
Namun, jika kita membaca teks ini dalam terang keseluruhan Alkitab, khususnya dalam perspektif Kristosentris, kita menyadari bahwa Salomo hanyalah bayangan dari Raja yang lebih besar. Salomo dipanggil untuk setia, tetapi ia gagal secara sempurna. Ia adalah raja yang berhikmat, namun tetap manusia berdosa. Di sinilah Injil bersinar: Yesus Kristus adalah Raja sejati, Anak Daud yang sempurna, yang hidup dalam ketaatan penuh kepada Bapa, bukan hanya sebagian, tetapi sampai mati di kayu salib.
Kita memahami bahwa kesetiaan kita kepada Tuhan bukanlah dasar keselamatan kita, melainkan buah dari keselamatan yang telah dianugerahkan di dalam Kristus. Kristus telah taat menggantikan kita, dan oleh anugerah-Nya kita dipanggil untuk hidup dalam kesetiaan sebagai respons syukur. Hidup dalam kesetiaan kepada Tuhan berarti hidup di bawah pemerintahan Kristus, Sang Raja yang setia, dan membiarkan Firman-Nya mengarahkan seluruh aspek kehidupan kita.
Dengan demikian, tema “Hidup Dalam Kesetiaan Kepada Tuhan” bukanlah panggilan moralistis semata, melainkan undangan Injili: untuk memandang kepada Kristus, Sang Raja yang sempurna, dan di dalam Dia, oleh kuasa anugerah-Nya, kita dimampukan untuk hidup setia kepada Tuhan.
Teks : 1 Raja-raja 2:1-4
Amanat terakhir Daud kepada Salomo merupakan
bagian dari tradisi alkitabiah yang lazim, di mana seorang pemimpin
menyampaikan pesan penentu menjelang kematiannya (bdk. Kej. 49:29; 2Raj. 20:1;
Kis. 20:18–35). Dalam kesadaran penuh akan kefanaan hidupnya dan kepastian
kematian yang segera tiba, Daud memusatkan pesannya bukan pada warisan politik
atau kekuatan militer, melainkan pada satu hal yang esensial: kesetiaan hidup
kepada Tuhan. Nasihat ini sejalan dengan amanat Musa dan Yosua, yang menegaskan
bahwa keberlangsungan umat Allah tidak ditentukan oleh figur pemimpin semata,
tetapi oleh ketaatan pada kehendak Allah sebagaimana dinyatakan dalam Taurat.
Panggilan Daud agar Salomo “kuat dan menjadi laki-laki” tidak semata-mata menunjuk pada keberanian fisik atau ketegasan politik, melainkan pada keteguhan batin, kedewasaan rohani, dan integritas moral di hadapan Allah. Kekuatan sejati seorang pemimpin, dan sesungguhnya setiap orang percaya, berakar pada kesetiaan yang konsisten dalam menaati perintah Tuhan. Oleh karena itu, hidup dalam kesetiaan kepada Tuhan berarti menjadikan ketaatan sebagai dasar dari setiap tindakan, keputusan, dan arah hidup.
Kesetiaan ini diwujudkan secara konkret melalui pemeliharaan hukum Tuhan segala perintah, ketetapan, dan tuntutan perjanjian-Nya. Ketaatan tersebut bukan sekadar kepatuhan legalistik, melainkan bentuk ibadah dan tanggung jawab perjanjian yang dijalani dengan kesungguhan hati. Dengan “berjalan di jalan-jalan Tuhan”, Salomo dipanggil untuk menata seluruh kehidupannya sesuai dengan kehendak Allah, baik dalam ranah pribadi maupun publik. Inilah makna hidup yang setia: hidup yang diarahkan, dikendalikan, dan dipertanggungjawabkan kepada Tuhan.
Janji keberhasilan yang menyertai ketaatan tidak boleh dipahami sebagai jaminan kemakmuran lahiriah semata, melainkan sebagai buah dari hikmat ilahi kemampuan untuk memahami kehendak Allah dan menjalani hidup secara benar. Kesetiaan kepada Tuhan menghasilkan kehidupan yang terarah, bermakna, dan berkenan di hadapan-Nya, sekalipun tidak selalu bebas dari tantangan.
Ciri ini kemudian dikenal sebagai keunggulan Salomo, yakni hikmat yang lahir dari relasi yang benar dengan Allah. Namun prinsip ini tidak terbatas pada raja saja. Dalam teologi Israel, bahkan raja pun berada di bawah hukum Tuhan; tidak ada seorang pun yang kebal terhadap tuntutan kesetiaan perjanjian. Janji Allah mengenai keberlangsungan berkat dan penyertaan-Nya bergantung pada kesediaan umat, termasuk para pemimpin, untuk hidup setia dengan “berjalan di hadapan Tuhan dalam kebenaran”.
Dengan demikian, hidup dalam kesetiaan kepada Tuhan berarti menjalani seluruh kehidupan dalam kesadaran akan hadirat Allah. Setiap langkah, pilihan, dan arah hidup diambil dengan sikap takut akan Tuhan, setia pada firman-Nya, dan bertanggung jawab sebagai umat perjanjian. Inilah inti pesan Daud dalam 1 Raja-raja 2:3 dan sekaligus panggilan yang tetap relevan bagi setiap orang percaya di sepanjang zaman.
Tafsiran Teks: 1 Raj 2:3
“Lakukanlah kewajibanmu terhadap TUHAN,
Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan tetap
berpegang pada ketetapan, perintah, peraturan, dan hukum-Nya, seperti yang
tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kauperbuat
dan dalam segala yang kautuju.”
1. Konteks Perjanjian dan Otoritas Firman
Dalam Pembacaan Alkitab yang benar, 1
Raja-raja 2:3 harus dibaca dalam kerangka perjanjian Allah (covenant
theology). Amanat Daud kepada Salomo bukanlah nasihat moral umum, melainkan
panggilan perjanjian yang berakar pada Taurat Musa. Frasa “seperti yang
tertulis dalam hukum Musa” menegaskan bahwa Firman Allah adalah standar
tertinggi bagi kehidupan umat dan pemimpin, termasuk raja. Teologi Kristen menekankan
prinsip sola Scriptura: Allah memerintah umat-Nya melalui Firman-Nya.
Dengan demikian, Salomo tidak diberi otoritas untuk menciptakan hukum, tetapi
dipanggil untuk tunduk sepenuhnya kepada hukum Allah yang telah diwahyukan.
Raja Israel bukan sumber hukum, melainkan hamba di bawah hukum Allah.
2. “Lakukanlah Kewajibanmu terhadap TUHAN”: Hidup sebagai Ibadah
Ungkapan “lakukanlah kewajibanmu terhadap TUHAN” (Ibr. šāmar mišmeret YHWH) dalam tafsiran Reformed dipahami sebagai panggilan untuk hidup dalam ketaatan yang lahir dari relasi perjanjian, bukan sebagai usaha memperoleh keselamatan melalui perbuatan. Ketaatan adalah respon syukur atas anugerah, bukan dasar pembenaran. Daud tidak sedang mengajarkan legalisme, melainkan menegaskan bahwa hidup yang telah dipilih dan ditebus Allah harus diwujudkan dalam ketaatan nyata. Dengan kata lain, kesetiaan adalah buah anugerah, bukan penggantinya.
3. “Hidup Menurut Jalan yang Ditunjukkan-Nya”: Ketaatan Total dan Menyeluruh
“Hidup menurut jalan Tuhan” Ini menunjuk pada
ketaatan yang holistik, mencakup seluruh aspek kehidupan pribadi, moral,
politik, dan spiritual. Ini sejalan dengan pemahaman bahwa tidak ada area
kehidupan yang netral atau otonom dari kedaulatan Allah (the lordship of
Christ over all of life). Perintah untuk berpegang pada “ketetapan,
perintah, peraturan, dan hukum” menunjukkan kelengkapan hukum Allah. Hukum
tidak dipilah sesuai kepentingan manusia, melainkan ditaati sebagai satu
kesatuan. Hukum Allah berfungsi:
- Menyatakan
kehendak Allah,
- Menyingkapkan
dosa manusia,
- Menjadi
pedoman hidup bagi orang percaya (the third use of the law).
4. Janji “Supaya Engkau Beruntung”: Berkat Perjanjian, Bukan Teologi Kemakmuran
Janji bahwa Salomo akan “beruntung” sering disalahpahami. keberhasilan (śākal) bukan terutama kemakmuran materi, melainkan hidup yang berjalan selaras dengan kehendak Allah dan berada di bawah penyertaan-Nya. Berkat dalam teks ini bersifat perjanjian dan kondisional secara etis, tetapi tetap berada dalam kerangka kedaulatan Allah. Allah berdaulat penuh atas hasil akhir, namun Ia menetapkan ketaatan sebagai sarana untuk menikmati berkat-Nya. Ini tidak bertentangan dengan doktrin anugerah, karena ketaatan itu sendiri dimungkinkan oleh karya Allah dalam diri umat-Nya.
5. Aplikasi Dalam Kehidupan
1.
Kesetiaan
kepada Tuhan di Tengah Budaya Relativisme Moral
Pergumulan masa kini:
Kebenaran
semakin dipahami sebagai sesuatu yang relatif dan ditentukan oleh perasaan,
mayoritas, atau kepentingan pribadi. Banyak orang percaya tergoda untuk
menyesuaikan nilai hidup dengan standar dunia agar diterima atau dianggap
relevan.
Aplikasi:
1
Raja-raja 2:3 menegaskan bahwa hidup setia kepada Tuhan berarti menjadikan Firman Allah sebagai standar absolut,
bukan opini publik. Dalam perspektif Reformed, orang percaya dipanggil untuk
hidup coram Deo[1]
bahkan ketika ketaatan itu tidak populer. Kesetiaan tidak diukur dari
penerimaan sosial, melainkan dari keselarasan hidup dengan kehendak Allah.
2.
Ketaatan
di Tengah Tekanan Keberhasilan dan Prestasi
Pergumulan masa kini:
Keberhasilan sering diukur oleh pencapaian
materi, jabatan, dan pengakuan publik. Banyak orang percaya mengalami konflik
antara integritas iman dan tuntutan untuk “berhasil” menurut standar dunia.
Aplikasi:
Janji “supaya engkau beruntung” dalam 1 Raja-raja 2:3 bukan legitimasi teologi
kemakmuran. Keberhasilan sejati adalah hidup yang berjalan dalam kehendak Allah,
bukan sekadar hasil yang terlihat. Tuhan memanggil umat-Nya untuk taat, bukan
untuk memanipulasi hasil.
➡ Aplikasi praktis:
mengambil keputusan yang benar meskipun tampak merugikan, menolak cara-cara
tidak etis demi karier, dan mempercayakan hasil akhir kepada kedaulatan Allah.
3. Hidup Utuh di Tengah Spiritualitas yang
Terfragmentasi
Pergumulan masa kini:
Iman sering dipisahkan dari kehidupan
sehari-hari: rohani di gereja, tetapi sekuler di tempat kerja; taat dalam
ibadah, tetapi kompromistis dalam praktik hidup.
Aplikasi:
“Berjalan di jalan Tuhan” berarti ketaatan yang menyeluruh, bukan parsial.
Perspektif Reformed menegaskan bahwa seluruh kehidupan berada di bawah
pemerintahan Allah. Tidak ada wilayah netral yang bebas dari tuntutan kesetiaan
kepada-Nya.
➡ Aplikasi praktis: menjadikan
iman Kristen sebagai dasar dalam pengelolaan keuangan, penggunaan waktu, etika
digital, cara memimpin, dan relasi keluarga.
Penutup Aplikatif
1 Raja-raja 2:3 mengajarkan bahwa
- Kesetiaan kepada Tuhan bukan sekadar ideal rohani, tetapi panggilan hidup yang konkret di tengah pergumulan nyata zaman ini.
- Orang percaya dipanggil untuk hidup taat sebagai respons syukur atas anugerah, dengan bersandar pada Kristus dan dipimpin oleh Roh Kudus, sambil mempercayakan seluruh hasil hidup kepada kedaulatan Allah.
- Hidup dalam kesetiaan kepada Tuhan berarti memilih ketaatan setiap hari, di tengah dunia yang menawarkan banyak jalan, tetapi hanya satu jalan yang berkenan kepada Allah.
[1] Coram Deo adalah frasa Latin yang terdapat dalam
Vulgata; artinya "di hadapan Allah" atau "di hadirat
Allah." Dalam Vulgata Latin, frasa coram Deo muncul dalam Mazmur 55:13
(Mazmur 56:13 dalam terjemahan modern). Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris,
ayat tersebut berbunyi, "Karena Engkau telah menyelamatkan aku dari maut
dan kakiku dari tersandung, supaya aku dapat berjalan di hadapan Allah [ coram
Deo] dalam terang hidup" (penekanan ditambahkan).
