“Korban
sejati bukanlah memberi sesuatu yang Allah kekurangan, melainkan mengembalikan
syukur kepada Allah yang telah memiliki segala sesuatu.”
Pendahuluan
Di zaman modern ini, manusia sering merasa bahwa apa yang dimilikinya adalah hasil jerih payah dan kemampuannya sendiri. Ketika seseorang memiliki harta yang berlimpah, jabatan yang tinggi, usaha yang berhasil, atau berbagai pencapaian lainnya, tidak jarang muncul anggapan bahwa semuanya adalah milik pribadi yang dapat digunakan sesuka hati. Pola pikir seperti ini perlahan-lahan membentuk sikap hidup yang berpusat pada diri sendiri dan mengabaikan fakta bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini berasal dari Tuhan.
Padahal, Alkitab
dengan tegas menyatakan bahwa manusia hanyalah pengelola atas apa yang Tuhan
percayakan kepadanya. Kita datang ke dunia tanpa membawa apa pun dan pada
akhirnya akan meninggalkan dunia ini tanpa membawa apa pun. Rumah yang kita
tempati, kendaraan yang kita gunakan, tanah yang kita miliki, bahkan napas
kehidupan yang kita hirup setiap hari sesungguhnya adalah pemberian Tuhan.
Karena itu, tidak ada alasan bagi manusia untuk menyombongkan diri seolah-olah
ia adalah pemilik mutlak atas segala sesuatu.
Mazmur 50
merupakan sebuah mazmur yang menggambarkan Allah sebagai Hakim yang memanggil
umat-Nya untuk mempertanggungjawabkan ibadah dan kehidupan mereka. Dalam ayat
7–15, Tuhan menegur umat Israel yang berpikir bahwa persembahan korban mereka
dapat memenuhi kebutuhan Allah. Mereka menjalankan ritual keagamaan, tetapi
gagal memahami siapa Allah yang mereka sembah. Melalui pemazmur, Tuhan
menegaskan bahwa Ia tidak membutuhkan lembu-lembu atau kambing-kambing dari
manusia, sebab seluruh ciptaan sudah menjadi milik-Nya. Semua binatang di
hutan, ternak di gunung-gunung, bahkan dunia dan segala isinya berada di bawah
kepemilikan dan kedaulatan-Nya.
Pesan ini sangat
relevan bagi kehidupan orang percaya masa kini. Sering kali kita datang kepada
Tuhan dengan membawa persembahan, pelayanan, atau berbagai bentuk pengabdian,
lalu tanpa sadar menganggap bahwa Tuhan bergantung pada apa yang kita berikan.
Namun, firman Tuhan mengingatkan bahwa yang paling penting bukanlah jumlah
persembahan yang kita bawa, melainkan hati yang bersyukur, hidup yang taat, dan
hubungan yang benar dengan-Nya.
Melalui tema
“Dunia dan Segala Isinya Milik Tuhan,” kita diajak untuk menyadari kembali
bahwa Allah adalah Pemilik sejati atas seluruh alam semesta. Kesadaran ini akan
menuntun kita kepada kerendahan hati, rasa syukur, dan tanggung jawab sebagai
pengelola yang setia atas segala berkat yang telah dipercayakan Tuhan kepada
kita. Marilah kita membuka hati untuk mendengarkan firman-Nya, sehingga kita
dapat memahami bagaimana seharusnya hidup sebagai umat yang mengakui kedaulatan
Allah atas dunia dan segala isinya.
“Sebab punya-Kulah
segala binatang hutan, dan ternak di bukit-bukit yang beribu-ribu.” (Mazmur
50:10). Amin.
Penafsiran Teks
Mazmur 50
merupakan contoh yang sangat baik dari suatu karya liturgis yang mungkin
dibacakan setiap tahun ketujuh ketika Taurat dibacakan pada Hari Raya Pondok
Daun (Ul. 31:9–13). Namun, ketika Kitab Perjanjian ditemukan kembali di Bait
Suci pada masa pemerintahan Raja Yosia (622–609 SM), tampaknya praktik tersebut
telah lama tidak dijalankan (2 Raj. 23:1–3).
Menurut pendekatan kritik bentuk (form criticism),
Gerald H. Wilson memandang Mazmur ini sebagai sebuah “gugatan perjanjian”
(covenant lawsuit), yaitu suatu sidang hukum rohani di mana Yahweh
mengajukan tuntutan terhadap Israel, sebagaimana ditemukan dalam Hosea 4:1.
Namun, berbeda dengan gugatan perjanjian pada umumnya, Mazmur 50 tidak
menggunakan istilah rib (“perselisihan” atau “perkara hukum”). Karena
itu, mazmur ini lebih tepat dipahami sebagai koreksi terhadap pemahaman
Israel mengenai korban daripada sekadar dakwaan hukum.
Mazmur ini adalah mazmur pertama dari kumpulan
Mazmur Asaf dan satu-satunya yang ditempatkan dalam Kitab II Mazmur (Mazmur
42–72), sementara sebelas mazmur Asaf lainnya berada dalam Kitab III (Mazmur
73–83). Seperti mazmur Asaf lainnya, Mazmur 50 memiliki karakter kenabian yang
kuat melalui berbagai ucapan ilahi (oracle) yang terkandung di dalamnya.
Teks dalam Konteks
Latar belakang historis dan teologis Mazmur 50
adalah peristiwa penyataan Allah di Gunung Sinai.
Peristiwa
Sinai tercermin sedikitnya dalam lima cara:
1. Identitas
umat perjanjian
Israel
disebut sebagai “orang-orang-Ku yang saleh” (Mzm. 50:5). Istilah ini berasal
dari kata ḥesed, yaitu kasih setia Allah dalam perjanjian. Sama seperti
istilah agapē dalam Perjanjian Baru, ḥesed merupakan salah satu
kata yang paling penting untuk menggambarkan hubungan Allah dengan umat-Nya.
2. Perjanjian
yang dimeteraikan dengan korban
Mazmur
50:5 mengingatkan bahwa umat Allah telah mengikat perjanjian dengan-Nya melalui
korban, sebagaimana dicatat dalam Keluaran 24:5–8.
3. Penampakan
Allah dalam api
Gambaran
Allah yang datang dengan api yang menghanguskan (Mzm. 50:3) mengingatkan pada
penampakan Allah di Gunung Sinai (Kel. 19:18; 24:17; Ul. 4:11).
4. Dua
tema utama Sinai
Mazmur
50 membahas dua tema utama wahyu Sinai:
- Korban
persembahan (Mzm. 50:8–15).
- Sepuluh
Perintah Allah (Mzm. 50:16–21).
Menariknya,
kedua tema tersebut muncul dalam urutan terbalik dibandingkan dengan Kitab
Keluaran.
5. Pendahuluan
Sepuluh Perintah Allah
Penulis menunjukkan bahwa pembukaan Dekalog dalam
bentuk Elohistis juga muncul dalam Mazmur 50, tetapi penjelasannya berlanjut
pada halaman berikutnya.
Mazmur 50:7c (“Akulah Allah, Allahmu”) menggantikan
frasa “TUHAN, Allahmu” (Yahweh Elohim; bdk. Kel. 20:2; Ul. 5:6). Karena
ditulis berdasarkan pola pernyataan di Sinai, pesan kenabian mazmur ini membawa
bobot dan urgensi Taurat. Bahkan, mazmur ini dapat dipandang sebagai contoh
awal penafsiran terhadap Taurat—dalam hal ini mengenai korban—suatu praktik
yang kemudian menjadi fungsi utama para imam Lewi (Neh. 8:7–8).
Mengingat adanya parodi terhadap pendahuluan
Dekalog dalam Mazmur 50:7a, serta pemilihan perintah-perintah tertentu yang
muncul kemudian (50:18–20), penulis tampaknya menggunakan Dekalog sebagai
kerangka dasar puisinya.
Seperti Mazmur 49, mazmur ini membahas manusia,
bukan Allah. Dan seperti beberapa bagian singkat lainnya dalam Kitab Mazmur
(mis. Mzm. 40:6–8; 51:16–17; 69:31), mazmur ini membahas implikasi etis dari
Hukum Taurat.
Mazmur 50 adalah salah satu dari dua belas mazmur
Asaf (50; 73–83). Penulis Tawarikh mencatat bahwa Daud mengangkat beberapa
keturunan Asaf, Heman, dan Yedutun untuk pelayanan nubuat yang diiringi kecapi,
gambus, dan ceracap (1 Taw. 25:1). Fakta bahwa Mazmur 50 dipisahkan dari
mazmur-mazmur Asaf lainnya mungkin memiliki makna tertentu.
Menurut John Goldingay, seorang penyunting mungkin
menyadari adanya kesamaan kenabian antara Mazmur 50 dan mazmur-mazmur Asaf
lainnya, lalu menempatkan mazmur ini secara terpisah. Penjelasan lain yang juga
masuk akal adalah bahwa penyusun Kitab II dan III melihat hubungan antara “para
pezina” dalam Mazmur 50:18 dan perzinahan Daud dalam Mazmur 51, sehingga
menjadikan Mazmur 50 sebagai pendahuluan bagi Mazmur 51.
Meskipun istilah “pezina” tidak muncul dalam Mazmur
51, perzinahan Daud dengan Batsyeba menjadi latar belakang mazmur tersebut
sesuai superskripsinya. Sangat mungkin penyunting merumuskan judul itu
sedemikian rupa untuk menonjolkan hubungan dengan Mazmur 50.
Selain itu, tema bersama mengenai korban dalam
Mazmur 50 dan 51 menjadi daya tarik tambahan. Mazmur 50 menyatakan bahwa Tuhan
tidak membutuhkan korban karena hubungan yang benar dengan Allah merupakan hal
yang paling penting (50:14–15), dan Mazmur 51 menunjukkan bahwa Daud memahami
prinsip ini dengan baik:
“Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban
sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya.
Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan
remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah” (Mzm. 51:16–17).
Outline
/ Structure
Perkataan
Allah merupakan pusat dari Mazmur ini. Allah dipanggil ke Sion untuk
menyampaikan tuduhan-Nya terhadap umat-Nya. Setelah panggilan dan penampakan
teofani yang digambarkan dengan bahasa Sinai, isi utama mazmur dapat disusun
sebagai berikut:
1. Hakim
memanggil bumi sebagai saksi atas penghakiman Allah (50:1–4)
a. Panggilan
(50:1)
b. Teofani
atau penampakan Allah (50:2–4)
2. Panggilan
kepada Israel sebagai saksi atas penghakiman Allah (50:5–6)
3. Tuduhan
pertama: mengenai korban (50:7–15)
a. Penjelasan
Allah tentang korban (50:7–13)
b. Undangan
Allah mengenai korban yang benar (50:14–15)
4. Tuduhan
kedua: mengenai perilaku etis (50:16–23)
a. Teguran
Allah tentang perintah-perintah dan perilaku etis (50:16–21)
b. Peringatan
dan nasihat penutup Allah (50:22–23)
Historical and Cultural Background
Pengadilan hukum merupakan salah satu institusi dasar Israel untuk menegakkan keadilan berdasarkan hukum-hukum ilahi yang diberikan dalam Taurat. Biasanya pengadilan berlangsung pada pagi hari di pintu gerbang kota dan dipimpin oleh para tua-tua kota yang berfungsi sebagai hakim dan juri (Rut 4:1–12). Gambaran pengadilan ini sering dipakai para nabi untuk menggambarkan hubungan Allah dengan umat-Nya yang melanggar perjanjian (mis. Yes. 1:2; Hos. 5:1). Dalam Mazmur 50, Allah sebagai Hakim memanggil langit dan bumi sebagai saksi atas penghakiman-Nya terhadap Israel.
Permasalahan utama yang disoroti adalah anggapan keliru bahwa korban merupakan sesuatu yang dibutuhkan Allah agar Ia dapat terus hidup. Pemahaman semacam ini kemungkinan dipengaruhi oleh pandangan keagamaan Mesopotamia yang menganggap para dewa harus diberi makan melalui korban-korban yang dipersembahkan manusia. Sebaliknya, Allah Israel tidak membutuhkan korban semacam itu. Bahkan jika Ia lapar, Ia tidak memerlukan korban Israel, sebab seluruh ciptaan adalah milik-Nya:
“Sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan
ternak di bukit-bukit yang beribu-ribu banyaknya” (Mazmur 50:10).
Analisis teks mazmur 50:7-15
a.
Mazmur 50:7
Mazmur 50:7 dibuka dengan sebuah seruan ilahi yang mengingatkan pembacanya pada inti pengakuan iman Israel. Allah sendiri memanggil umat-Nya untuk mendengarkan: “Dengarlah, hai umat-Ku, Aku hendak berfirman.” Karena itu, sejumlah penafsir melihat ayat ini sebagai gema dari Shema Israel dalam Ulangan 6:4. Gerald H. Wilson bahkan menyebutnya sebagai suatu bentuk “parodi Shema”, bukan dalam arti ejekan, melainkan sebagai penggunaan kembali bahasa liturgis yang sangat dikenal Israel untuk memperkenalkan suatu teguran perjanjian. Jika dalam Shema umat diperintahkan untuk mendengarkan dan mengakui keesaan Tuhan, maka dalam Mazmur 50 Allah sendiri mengambil inisiatif untuk berbicara dan menuntut pertanggungjawaban umat yang telah mendengar firman-Nya, namun gagal menghidupinya. Pernyataan ilahi yang menutup pembukaan ayat ini, “Akulah Allahmu, Allahmu,” mengingatkan pembaca pada formula perjanjian yang menjadi dasar Sepuluh Perintah Allah: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir” (Kel. 20:2). Namun, karena Mazmur 50 termasuk dalam kumpulan yang dikenal sebagai Mazmur Elohistik (Mazmur 42–83), nama perjanjian YHWH secara khas digantikan oleh sebutan Elohim. Akibatnya, formula tersebut muncul dalam bentuk yang berbeda tetapi dengan makna teologis yang sama kuat: “Akulah Allahmu, Allahmu.”
Dengan demikian, pemazmur sedang menegaskan bahwa Allah yang berbicara dalam mazmur ini bukanlah ilah yang asing, melainkan Allah perjanjian yang telah mengikat diri-Nya dengan umat-Nya. Ia berbicara dengan otoritas Sang Penebus sekaligus Hakim Perjanjian. Sebagaimana Sepuluh Perintah Allah diawali dengan deklarasi identitas Allah sebelum tuntutan ketaatan diberikan, demikian pula Mazmur 50 mendasarkan seluruh tegurannya pada relasi anugerah yang telah lebih dahulu dibangun oleh Allah dengan umat-Nya. Oleh sebab itu, bagian selanjutnya dari mazmur ini tidak boleh dipahami sekadar sebagai refleksi religius pemazmur, melainkan sebagai firman Allah sendiri yang disampaikan kepada umat-Nya. Struktur ini menyerupai pola perjanjian Sinai, di mana Allah terlebih dahulu menyatakan siapa diri-Nya sebelum menyatakan apa yang dituntut-Nya. Ketaatan yang sejati lahir bukan dari ritual yang kosong, tetapi dari pengenalan akan Allah yang berfirman dan hidup dalam relasi perjanjian dengan umat-Nya.
Dalam perspektif teologi perjanjian, Mazmur 50
menunjukkan bahwa ibadah yang benar tidak dimulai dari apa yang manusia
persembahkan kepada Allah, melainkan dari apa yang Allah nyatakan tentang
diri-Nya. Allah tidak pertama-tama berkata, “Berikanlah korbanmu kepada-Ku,”
melainkan, “Akulah Allahmu.” Dengan kata lain, identitas Allah
mendahului tuntutan Allah. Anugerah selalu mendahului ketaatan.
John Calvin menulis:
“God
does not simply command obedience, but reminds the people that He is their God,
because no stronger motive can be brought forward to induce us to submit
ourselves to Him.”
(Commentary
on the Book of Psalms, Vol. II, Grand Rapids: Baker, 2005 reprint, pada
pembahasan Mazmur 50:7).
Calvin menegaskan bahwa pengakuan “Akulah
Allahmu” merupakan dasar moral dan spiritual bagi seluruh kehidupan umat
Allah. Ketaatan bukanlah usaha memperoleh perkenanan Allah, melainkan respons
terhadap hubungan yang telah lebih dahulu dikaruniakan.
Augustinus juga melihat pola yang sama ketika
menafsirkan mazmur-mazmur penghakiman:
“He who judges is the same One who first redeemed.”
(Expositions
on the Psalms, Psalm 49 [LXX numbering yang berkorespondensi dengan Ps. 50
MT], dalam Nicene and Post-Nicene Fathers, First Series, Vol. 8).
Bagi Augustinus, Allah yang menegur umat-Nya adalah
Allah yang sebelumnya telah mengasihi dan menebus mereka. Teguran ilahi
merupakan ekspresi kesetiaan perjanjian, bukan penolakan terhadap umat-Nya.
b. Mazmur 50:8
Dalam Mazmur 50:8, Allah secara mengejutkan menyatakan bahwa teguran-Nya terhadap Israel bukanlah karena mereka mengabaikan ritual keagamaan. Sebaliknya, Tuhan mengakui bahwa umat-Nya tetap setia menjalankan sistem korban yang telah ditetapkan dalam Taurat. Korban sembelihan dan korban bakaran masih dipersembahkan sebagaimana mestinya. Dengan kata lain, persoalan utama Israel bukanlah kurangnya aktivitas ibadah, melainkan kegagalan memahami makna rohani yang seharusnya terkandung di dalam ibadah tersebut. Pernyataan Allah, “korban-korbanmu senantiasa ada di hadapan-Ku,” menunjukkan bahwa kehidupan kultis Israel tetap berlangsung secara teratur. Korban-korban itu tidak terhenti, mezbah tidak ditinggalkan, dan tata ibadah masih dijalankan. Ungkapan ini mengindikasikan bahwa Allah menyaksikan secara langsung kesetiaan lahiriah umat dalam memenuhi kewajiban ritual mereka.
Secara khusus, penyebutan korban bakaran (ʿōlāh) mengingatkan pembaca kepada korban harian yang dipersembahkan setiap pagi dan petang sebagaimana diperintahkan dalam Bilangan 28:3–8. Dalam tradisi Israel, korban ini menjadi simbol penyerahan diri yang terus-menerus kepada Allah. Karena itu, masalah yang hendak disingkapkan Allah bukanlah absennya korban, melainkan adanya jurang antara tindakan ritual dan kondisi hati umat. Kata Ibrani תָּמִיד (tāmîd), yang diterjemahkan “senantiasa” atau “terus-menerus,” memiliki makna penting dalam teologi ibadah Perjanjian Lama. Istilah ini sering digunakan untuk menunjuk sesuatu yang berlangsung tanpa putus di hadapan Allah, termasuk korban harian, pelita yang terus menyala di Kemah Suci, dan roti sajian yang selalu tersedia di hadapan-Nya (Kel. 27:20; Im. 24:2–8). Dengan demikian, Allah sedang mengakui bahwa aspek lahiriah ibadah Israel tetap terpelihara secara konsisten. Namun, konsistensi ritual tidak otomatis berarti kesetiaan perjanjian.
Pendalaman Teologis
Ayat ini mengajarkan sebuah prinsip penting dalam
teologi ibadah: Allah tidak hanya menilai keberlangsungan ibadah, tetapi
juga kebenaran hati yang melatarbelakangi ibadah tersebut. Kritik Allah
bukan ditujukan kepada korban itu sendiri, sebab korban adalah institusi yang
ditetapkan-Nya. Kritiknya diarahkan kepada kecenderungan manusia untuk
menjadikan ritual sebagai pengganti relasi yang hidup dengan Allah.
John Goldingay menjelaskan:
“The issue is not that Israel is
neglecting sacrifice; the problem is that sacrifice has come to be
misunderstood as something God needs or as something that can substitute for
covenant commitment.”
(Psalms,
Volume 2: Psalms 42–89, Baker Academic, 2007, hlm. 89).
("Masalahnya bukan bahwa Israel
mengabaikan korban; masalahnya adalah bahwa korban telah disalahpahami
seolah-olah Allah membutuhkannya atau seolah-olah korban dapat menggantikan
kesetiaan terhadap perjanjian.")
Senada dengan itu, Derek Kidner menulis:
“The
people were punctilious in ritual, but deficient in understanding.”
("Umat
itu sangat teliti dalam ritual, tetapi miskin dalam pengertian yang
benar.")
Perspektif Bapa Gereja
Augustinus melihat ayat ini sebagai peringatan
terhadap kecenderungan manusia mengandalkan tindakan lahiriah sambil
mengabaikan pembaruan batin:
“God
does not reject sacrifice, but He rejects the heart that trusts in sacrifice
rather than in God.”
Bagi Augustinus, korban yang benar bukan sekadar sesuatu yang diletakkan di atas mezbah, melainkan hati yang dipersembahkan kepada Allah. Pemahaman ini selaras dengan Mazmur 51:17: “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.”
c. Mazmur 50:9
Dalam Mazmur 50:9, Allah mulai menyingkapkan kesalahpahaman mendasar yang telah merusak pemahaman Israel tentang ibadah. Setelah menegaskan bahwa Ia tidak mempersalahkan umat karena kurang mempersembahkan korban, kini Ia menjelaskan mengapa korban-korban itu tidak pernah dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan-Nya. Tuhan berfirman: “Aku tidak mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu.” Pernyataan ini bukan penolakan terhadap sistem korban yang telah ditetapkan-Nya sendiri, melainkan penolakan terhadap anggapan bahwa Allah bergantung pada persembahan manusia. Di balik teguran ini terdapat sebuah kebenaran teologis yang agung: Allah adalah Pemilik mutlak seluruh ciptaan. Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi berasal dari-Nya, berada di bawah kuasa-Nya, dan tetap menjadi milik-Nya. Binatang-binatang liar di hutan, burung-burung yang terbang di pegunungan, serta ternak yang memenuhi padang-padang rumput semuanya berada dalam kepemilikan dan pemerintahan-Nya. Oleh sebab itu, ketika manusia membawa korban kepada Allah, ia tidak sedang memberikan sesuatu yang sebelumnya tidak dimiliki Allah. Ia hanya mengembalikan sebagian kecil dari apa yang terlebih dahulu telah diterimanya dari tangan Sang Pencipta.
Ungkapan “ternak di bukit-bukit yang beribu-ribu
banyaknya” merupakan gambaran puitis tentang kekayaan dan kedaulatan Allah
yang tidak terbatas. Pemazmur tidak sedang menghitung jumlah ternak secara
harfiah, melainkan menegaskan bahwa seluruh sumber daya alam semesta berada di
bawah kepemilikan Allah. Tidak ada kekurangan dalam diri-Nya, tidak ada
kebutuhan yang harus dipenuhi oleh persembahan manusia, dan tidak ada sesuatu
yang dapat menambah kemuliaan-Nya yang sempurna.
Pendalaman Teologis
Ayat ini mengajarkan doktrin klasik tentang aseitas
Allah (aseity of God), yaitu bahwa Allah memiliki keberadaan dan
kecukupan di dalam diri-Nya sendiri. Allah tidak bergantung pada ciptaan untuk
mempertahankan hidup-Nya, meningkatkan kebahagiaan-Nya, atau melengkapi
kesempurnaan-Nya.
Herman Bavinck menjelaskan:
“God
is the absolute, self-sufficient One. He is dependent on nothing, but
everything depends on Him.”
("Allah
adalah Pribadi yang mutlak dan mencukupi diri-Nya sendiri. Ia tidak bergantung
pada apa pun, tetapi segala sesuatu bergantung kepada-Nya.
Kebenaran yang sama ditegaskan dalam Perjanjian
Baru ketika Paulus berkhotbah di Areopagus:
“Allah
yang menjadikan dunia dan segala isinya … tidak dilayani oleh tangan manusia
seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan
napas dan segala sesuatu kepada semua orang” (Kis. 17:24–25).
Dengan demikian, Mazmur 50:9 bukan sekadar
berbicara tentang korban, melainkan tentang hakikat Allah sendiri. Allah
menerima korban bukan karena Ia membutuhkan korban itu, melainkan karena umat
membutuhkan tindakan penyerahan diri kepada-Nya.
Kesaksian Para Teolog
John Calvin menafsirkan bagian ini dengan
mengatakan:
“God declares that sacrifices were
never instituted because He needed them, but because they were profitable for
the worshippers.”
("Allah menyatakan bahwa korban
tidak pernah ditetapkan karena Ia membutuhkannya, melainkan karena korban itu
berguna bagi para penyembah.")
Calvin melihat bahwa korban berfungsi sebagai
sarana pendidikan rohani. Melalui korban, umat belajar tentang dosa,
pengampunan, dan ketergantungan kepada Allah. Korban itu mendidik manusia,
bukan memenuhi kebutuhan Allah.
Demikian pula Charles H. Spurgeon menulis:
“What
can be presented to Him who already owns all things? Sacrifices are accepted
not because God needs them, but because He graciously permits His people to
express their devotion.”
Perspektif Bapa Gereja
Augustinus melihat ayat ini sebagai penolakan
terhadap cara berpikir kafir yang menganggap para dewa bergantung pada
persembahan manusia:
“God
requires not the flesh of beasts but the obedience of the heart.”
Bagi Augustinus, Allah tidak mencari sesuatu dari
manusia karena Ia kekurangan, melainkan karena Ia ingin membawa manusia masuk
ke dalam persekutuan dengan-Nya.
Demikian pula Yohanes Krisostomus menegaskan:
“God
receives offerings not to enrich Himself but to train us in gratitude.”
Korban dan persembahan bukanlah sarana untuk
memperkaya Allah, melainkan sarana untuk membentuk hati manusia agar hidup
dalam ucapan syukur.
d. Mazmur 50:12
Dalam Mazmur 50:12, Allah melanjutkan argumentasi-Nya dengan sebuah pernyataan yang bersifat hipotetis: “Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu.” Pernyataan ini bukan dimaksudkan untuk membuka kemungkinan bahwa Allah benar-benar dapat mengalami kelaparan, melainkan sebagai sebuah bentuk retorika yang menegaskan ketidakbergantungan-Nya secara mutlak. Pemazmur menggunakan kata Ibrani אִם ('im), yang menyatakan suatu kondisi hipotesis untuk kepentingan argumentasi. Maksudnya adalah: sekalipun—andaikata hal yang mustahil itu terjadi—Allah tetap tidak akan bergantung kepada manusia untuk memenuhi kebutuhan-Nya. Dengan cara ini, Tuhan meruntuhkan salah satu kesalahpahaman religius yang paling umum di dunia kuno. Banyak bangsa di sekitar Israel percaya bahwa para dewa memerlukan makanan, minuman, dan persembahan dari manusia untuk mempertahankan kehidupan atau kekuatan mereka. Dalam berbagai mitologi Timur Dekat Kuno, korban dipandang sebagai sarana memberi makan para dewa. Namun, Allah Israel menyatakan diri-Nya secara radikal berbeda dari konsep tersebut. Ia bukan dewa yang membutuhkan dukungan ciptaan, melainkan Pencipta yang menopang seluruh ciptaan.
Oleh sebab itu, ketika Allah berkata, “Jika Aku
lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu,” Ia sedang menegaskan bahwa hubungan
antara Allah dan umat-Nya tidak didasarkan pada kebutuhan Allah terhadap
manusia, melainkan pada anugerah Allah kepada manusia. Ibadah tidak ada untuk
mempertahankan hidup Allah; ibadah ada karena manusia hidup oleh pemeliharaan
Allah.
Pendalaman Teologis
Ayat ini merupakan salah satu pernyataan Alkitab
yang paling jelas mengenai aseitas Allah (aseitas Dei), yaitu
bahwa Allah memiliki kehidupan, keberadaan, dan kecukupan di dalam diri-Nya
sendiri. Allah tidak menerima hidup dari luar diri-Nya, tidak bergantung pada
sumber lain, dan tidak memerlukan sesuatu pun untuk mempertahankan
eksistensi-Nya.
Herman Bavinck menulis:
“God is not a being who becomes richer
by what creatures give Him or poorer by what they withhold. He is eternally and
infinitely complete in Himself.”
("Allah bukanlah Pribadi yang
menjadi lebih kaya karena apa yang diberikan ciptaan kepada-Nya atau menjadi
lebih miskin karena apa yang mereka tahan. Ia secara kekal dan tak terbatas
sempurna di dalam diri-Nya sendiri.")
Pemahaman yang sama muncul dalam khotbah Paulus di
Atena:
“Allah
yang menjadikan dunia dan segala isinya … tidak dilayani oleh tangan manusia
seolah-olah Ia kekurangan apa-apa” (Kis. 17:24–25).
Paulus tampaknya menggemakan prinsip yang telah
ditegaskan dalam Mazmur 50. Allah menerima penyembahan bukan karena Ia
membutuhkan penyembahan itu, tetapi karena manusia diciptakan untuk
menyembah-Nya.
Latar Belakang Polemis terhadap Agama Kafir
Para ahli Perjanjian Lama menunjukkan bahwa Mazmur
50 mengandung nuansa polemis terhadap konsep religius bangsa-bangsa di sekitar
Israel.
John Goldingay menjelaskan:
“The
psalm mocks the notion that God depends on sacrifices for nourishment, an idea
common in the ancient Near Eastern world.”
Dalam Epik Atrahasis maupun berbagai teks
Mesopotamia lainnya, para dewa digambarkan bergantung pada persembahan manusia.
Bahkan setelah air bah, para dewa diceritakan berkumpul di sekitar korban
seperti lalat yang mengerumuni makanan. Gambaran semacam ini sama sekali asing
bagi iman Israel. Allah dalam Perjanjian Lama tidak pernah membutuhkan korban
sebagai sumber kehidupan-Nya. Sebaliknya, korban merupakan tanda pengakuan
manusia bahwa seluruh hidupnya bergantung kepada Allah.
Christopher J. H. Wright menulis:
“The God of Israel is never sustained
by sacrifice; rather, He sustains those who offer it.”[1]
Perspektif Para Bapa Gereja
Augustinus melihat ayat ini sebagai sanggahan
terhadap setiap upaya manusia untuk membayangkan Allah menurut ukuran kebutuhan
manusia:
“When
God says, ‘If I were hungry, I would not tell thee,’ He teaches that His
blessedness depends on nothing outside Himself.”
Menurut Augustinus, Allah tidak dapat dipahami
sebagai makhluk yang membutuhkan sesuatu di luar diri-Nya, sebab kebutuhan
merupakan ciri makhluk ciptaan, bukan Sang Pencipta.
Athanasius juga menegaskan:
“God
is self-sufficient, lacking nothing, while all things receive from Him.”
Against
the Heathen,
§28.
Pernyataan ini sejalan dengan pesan Mazmur 50 bahwa
seluruh realitas bergantung kepada Allah, bukan sebaliknya.
Refleksi Kristologis
Dalam terang Perjanjian Baru, ayat ini semakin
memperlihatkan keagungan Allah yang dinyatakan dalam Kristus. Sang Anak Allah
yang secara hakiki tidak membutuhkan apa pun justru memilih untuk merendahkan
diri dan mengambil natur manusia (Flp. 2:6–8). Kelaparan yang dialami Yesus di
padang gurun (Mat. 4:2) bukanlah bukti bahwa keilahian-Nya bergantung pada
manusia, melainkan bagian dari inkarnasi-Nya demi keselamatan manusia.
John Stott mengamati:
“The wonder of the incarnation is not
that God needed humanity, but that God loved humanity.”
e. Mazmur 50:13
Dalam Mazmur 50:13, Allah mengajukan sebuah pertanyaan retoris yang tajam dan menggugah kesadaran umat-Nya: “Masakan Aku memakan daging lembu atau meminum darah kambing jantan?” Pertanyaan ini tidak menuntut jawaban karena jawabannya sudah jelas. Allah sedang menyingkapkan absurditas pemikiran yang menganggap bahwa korban-korban yang dipersembahkan manusia memenuhi suatu kebutuhan dalam diri-Nya. Dengan kata lain, Tuhan bertanya kepada umat-Nya: “Apakah kamu sungguh percaya bahwa Aku memerlukan makanan sebagaimana manusia memerlukannya? Apakah kamu mengira korban yang kamu persembahkan menjadi sumber kehidupan bagi-Ku?” Melalui pertanyaan ini, Allah menghancurkan setiap konsep yang merendahkan-Nya menjadi seperti dewa-dewa bangsa kafir. Ia bukan makhluk yang hidup dari persembahan manusia, bukan pula penguasa surgawi yang harus dipelihara melalui ritual keagamaan. Sebaliknya, Dialah Sang Pencipta yang memberi makan seluruh makhluk hidup dan menopang keberadaan alam semesta. Karena itu, korban tidak pernah dimaksudkan sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan Allah, melainkan sebagai sarana bagi manusia untuk menyatakan iman, pertobatan, syukur, dan penyerahan diri kepada-Nya.
Dengan demikian, fokus ibadah yang benar bukanlah
apa yang dapat diberikan manusia kepada Allah, melainkan bagaimana manusia
menanggapi kasih karunia Allah yang telah lebih dahulu memberinya segala
sesuatu. Korban sejati bukanlah makanan bagi Allah, melainkan ungkapan hati
yang mengakui ketergantungannya kepada Allah.
Pendalaman Teologis
Pertanyaan retoris dalam ayat ini merupakan puncak
dari argumentasi yang dimulai sejak ayat 9. Allah sedang mengoreksi pemahaman
yang salah mengenai makna korban. Dalam dunia Timur Dekat Kuno, banyak sistem
keagamaan mengajarkan bahwa para dewa menerima makanan melalui asap korban atau
darah persembahan. Sebaliknya, iman Israel menegaskan bahwa Allah tidak
memperoleh manfaat material apa pun dari korban yang dipersembahkan kepada-Nya.
John Goldingay menjelaskan:
“The
point is not that sacrifice is wrong, but that God does not consume it.
Sacrifice benefits the worshiper, not God.” ("Maksudnya bukan bahwa korban
itu salah, melainkan bahwa Allah tidak mengonsumsinya. Korban bermanfaat bagi
penyembah, bukan bagi Allah.")
Demikian pula Willem A. VanGemeren menulis:
“The
Lord rejects any notion that sacrifices provide Him with sustenance. He is the
Creator and Owner of all.”[2]
Ayat ini secara implisit mengajarkan bahwa Allah
berbeda secara kualitatif dari seluruh ciptaan. Ia adalah Roh (Yoh. 4:24),
sehingga tidak bergantung pada kebutuhan biologis yang menjadi ciri makhluk
jasmani.
Hubungan dengan Teologi Korban dalam Perjanjian Lama
Pernyataan Allah dalam Mazmur 50:13 tidak boleh
dipahami sebagai penolakan terhadap sistem korban yang ditetapkan dalam Taurat.
Justru Allah sedang mengembalikan korban kepada maknanya yang benar.
Korban dalam Perjanjian Lama memiliki beberapa
fungsi utama:
1.
Sarana pendamaian dosa (Im.
17:11).
2.
Ungkapan syukur dan persekutuan dengan
Allah
(Im. 7:11–15).
3.
Simbol penyerahan diri kepada Allah (Im.
1:3–9).
4.
Bayangan karya penebusan Kristus yang
akan datang
(Ibr. 10:1–14).
Karena itu, masalah yang ditegur Allah bukan korban
itu sendiri, melainkan pemikiran bahwa tindakan ritual dapat menggantikan
relasi yang hidup dengan-Nya.
Bruce K. Waltke menegaskan:
“The
sacrificial system was never intended to satisfy divine need but to express
covenant relationship.”[3]
Perspektif Para Bapa Gereja
Augustinus menafsirkan pertanyaan ini sebagai
penolakan terhadap pemahaman yang bersifat jasmani tentang Allah:
“God
asks these things not because He doubts the answer, but because He would remove
from our minds every earthly conception of Him.”[4]
Menurut Augustinus, manusia sering kali membentuk
gambaran tentang Allah berdasarkan pengalaman manusiawi. Karena itu, Allah
menggunakan pertanyaan retoris untuk membebaskan umat dari konsep-konsep yang
keliru tentang diri-Nya.
Yohanes Krisostomus juga mengajarkan:
“God
receives sacrifice not because He needs what is offered, but because the giver
needs to learn devotion.”[5]
Dengan kata lain, korban berfungsi sebagai sarana
pendidikan rohani bagi manusia, bukan sebagai pemenuhan kebutuhan ilahi.
Refleksi Kristologis
Mazmur 50:13 menemukan penggenapan yang lebih dalam
dalam karya Kristus. Seluruh sistem korban Perjanjian Lama pada akhirnya
menunjuk kepada satu korban yang sempurna, yaitu Yesus Kristus.
Penulis Ibrani menegaskan:
“Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki,
tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku” (Ibr. 10:5).
Ayat ini tidak berarti Allah menolak korban secara
mutlak, melainkan bahwa korban binatang tidak pernah menjadi tujuan akhir.
Semua korban itu menunjuk kepada ketaatan sempurna Kristus. Allah tidak mencari
darah lembu dan kambing sebagai kebutuhan-Nya, tetapi menghendaki ketaatan yang
sempurna yang akhirnya digenapi oleh Anak-Nya sendiri.
Sebagaimana dinyatakan dalam Ibrani 10:4:
“Sebab
tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa.”
Korban-korban itu bernilai karena menunjuk kepada
Kristus, bukan karena memberi sesuatu kepada Allah yang tidak dimiliki-Nya.
f. Mazmur 50:14
Setelah menyingkap kesalahpahaman umat mengenai hakikat korban, Mazmur 50:14 menandai sebuah peralihan penting dari kritik menuju pengajaran. Allah tidak sekadar menunjukkan apa yang salah dalam ibadah Israel, tetapi juga menjelaskan seperti apa ibadah yang berkenan kepada-Nya. Jika sebelumnya Allah menegaskan bahwa Ia tidak membutuhkan daging lembu atau darah kambing, kini Ia menyatakan korban yang sungguh-sungguh dikehendaki-Nya: “Persembahkanlah korban syukur kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi.” Dengan demikian, fokus ibadah bergeser dari ritual lahiriah menuju respons hati yang lahir dari relasi perjanjian. Allah mencari umat yang mengingat kebaikan-Nya, mengakui pertolongan-Nya, dan hidup dalam kesetiaan kepada janji yang telah mereka ucapkan di hadapan-Nya. Korban yang sejati bukan pertama-tama berupa sesuatu yang diletakkan di atas mezbah, melainkan kehidupan yang dipenuhi ucapan syukur dan ketaatan.
Korban syukur (todah) merupakan ungkapan
hati yang mengenali bahwa setiap berkat berasal dari tangan Allah. Sementara
itu, pemenuhan nazar merupakan bukti bahwa ucapan syukur itu tidak berhenti
pada kata-kata, tetapi diwujudkan dalam kesetiaan yang nyata. Dengan demikian,
Allah menghendaki ibadah yang menghubungkan bibir, hati, dan kehidupan dalam
satu kesatuan yang utuh.
1. Korban
Syukur: Respons atas Anugerah Allah
Frasa “Persembahkanlah korban syukur kepada Allah” menggunakan istilah Ibrani תּוֹדָה (todah), yang menunjuk kepada korban ucapan syukur sebagaimana dijelaskan dalam Imamat 7:12–15. Korban ini dipersembahkan bukan untuk memperoleh pertolongan Allah, melainkan sebagai respons atas pertolongan yang telah diterima. Dengan kata lain, todah adalah ibadah yang lahir dari ingatan akan kasih setia Allah.
John Goldingay menjelaskan:
“Thanksgiving
is the appropriate response to a God who already provides all that His people
need.”[6] ("Ucapan
syukur adalah respons yang tepat kepada Allah yang telah lebih dahulu
menyediakan segala kebutuhan umat-Nya.")
Dalam teologi Perjanjian Lama, syukur bukan sekadar
emosi, melainkan pengakuan iman. Orang yang bersyukur mengakui bahwa hidupnya
dipelihara oleh Allah. Ia melihat karya Tuhan di balik setiap pertolongan,
pemeliharaan, dan keselamatan yang diterimanya.
Karena itu, ketika Allah meminta korban syukur, Ia
sedang memanggil umat-Nya untuk hidup dalam kesadaran bahwa segala sesuatu
berasal dari-Nya.
Sebagaimana dinyatakan dalam Mazmur 116:17:
“Aku
akan mempersembahkan korban syukur kepada-Mu dan akan menyerukan nama TUHAN.”
Syukur menjadi bentuk ibadah yang paling sesuai
dengan karakter Allah yang penuh kasih karunia.
2. Membayar
Nazar: Kesetiaan kepada Allah
Perintah kedua berbunyi:
“Bayarlah
nazarmu kepada Yang Mahatinggi.”
Dalam Alkitab, nazar (neder) adalah janji
yang diucapkan seseorang kepada Allah dalam konteks doa atau permohonan
tertentu.
Contoh yang terkenal adalah nazar Hana:
“Ya TUHAN semesta alam, jika
sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini … maka aku akan
menyerahkan dia kepada TUHAN seumur hidupnya” (1 Sam. 1:11).
Setelah Allah menjawab doanya, Hana memenuhi
nazarnya dengan menyerahkan Samuel kepada pelayanan Tuhan (1 Sam. 1:24–28).
Dengan demikian, nazar merupakan ekspresi iman,
tetapi pemenuhannya merupakan bukti kesetiaan.
Derek Kidner menulis:
“The
vow was not a bargain with God but a pledge of grateful obedience.”[7] ("Nazar
bukanlah transaksi dengan Allah, melainkan janji ketaatan yang lahir dari rasa
syukur.")
Allah menolak religiositas yang penuh janji tetapi
miskin kesetiaan. Karena itu, ibadah sejati tidak hanya terlihat ketika
seseorang berdoa memohon pertolongan, tetapi juga ketika ia menepati
komitmennya setelah pertolongan itu diberikan.
Perspektif Teologi Perjanjian
Mazmur 50:14 menunjukkan bahwa Allah menghendaki
dua respons utama dari umat perjanjian:
- Hati
yang bersyukur.
- Hidup
yang setia.
Kedua hal ini merupakan inti relasi perjanjian
antara Allah dan umat-Nya.
John Calvin menulis:
“God
values not the external sacrifice but the inward affection from which it
proceeds.” ("Allah tidak menghargai korban lahiriah itu sendiri, melainkan
sikap hati yang melahirkannya.")[8]
Bagi Calvin, korban syukur dan pemenuhan nazar
adalah bukti bahwa hati seseorang sungguh mengenal dan menghormati Allah.
Perspektif Bapa-Bapa Gereja
Augustinus melihat ayat ini sebagai penjelasan
tentang korban yang sesungguhnya dalam kehidupan orang percaya:
“The
sacrifice of praise is the sacrifice of a heart that loves God.”[9]
Menurut Augustinus, korban syukur tidak terutama
berbicara tentang persembahan material, melainkan tentang hati yang memuliakan
Allah karena karya-Nya.
Demikian pula Yohanes Krisostomus menegaskan:
“Thanksgiving
is greater than sacrifice, for it springs from a soul that recognizes God's
goodness.”[10]
Bagi Krisostomus, syukur adalah bentuk ibadah yang
paling murni karena lahir dari pengenalan akan kemurahan Allah.
Refleksi Kristologis
Dalam terang Perjanjian Baru, korban syukur
mencapai kepenuhannya dalam Kristus.
Penulis Ibrani berkata:
“Sebab
itu marilah kita senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah oleh
Dia, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya” (Ibr. 13:15).
Korban yang dikehendaki Allah sekarang bukan lagi
korban binatang, melainkan hidup yang dipenuhi ucapan syukur melalui karya
Kristus.
Yesus sendiri adalah penggenapan sempurna dari
ketaatan yang dituntut dalam nazar. Ia memenuhi seluruh kehendak Bapa dengan
sempurna (Yoh. 17:4; Ibr. 10:7). Karena itu, orang percaya dipanggil untuk
meneladani kesetiaan Kristus dengan menepati komitmen yang telah diucapkan di
hadapan Allah.
Sepuluh Perintah Allah yang Terbalik
Kutipan
Martin Luther: Berbicara tentang buku-bukunya dan fakta bahwa ia
tidak berusaha memperoleh keuntungan dari buku-buku tersebut serta tidak
meminta bantuan keuangan dari pangeran pemilih Sachsen, Martin Luther berkata:
“Dunia
ini tidak lain adalah sebuah Dekalog yang terbalik, atau Sepuluh Perintah Allah
yang dibalikkan, sebuah topeng dan gambaran Iblis; penuh dengan orang-orang
yang meremehkan Allah, menghujat Allah, dan tidak taat. Percabulan,
kesombongan, pencurian, pembunuhan, dan sebagainya sekarang hampir matang untuk
menerima penghukuman.”
Gambaran
Luther tentang “Dekalog yang terbalik” merupakan cara yang sangat kuat untuk
menggambarkan apa yang telah salah dalam dunia Asaf, dan juga dalam dunia kita.
Kata-kata larangan dalam perintah-perintah Allah telah dihapuskan, dan manusia
melakukan hal-hal yang justru dilarang oleh perintah-perintah tersebut.
Bibliography
1.
John Chrysostom,
Homilies on the Gospel of St. Matthew. Part II: Homilies 26-58, Gorgias Press,
2011.
2.
Saint Augustin,
Bishop Of Hippo. Nicene and Post-Nicene Fathers: First Series Volume VIII — St.
Augustine: Expositions on the Psalms. Cosimo, Inc., 2007.
3.
John Goldingay,
Psalms, Volume 2: Psalms 42–89, Baker Academic, 2007.
4.
Bruce K. Waltke,
An Old Testament Theology, Zondervan, 2007.
5.
Willem A.
VanGemeren, Expositor's Bible Commentary: Psalms, Zondervan, 2008.
6.
John Stott, The
Cross of Christ, IVP, 1986.
7.
Athanasius,
Schaff, Philip., NPNF2-04. Athanasius: Select Works and Letters. Grand Rapids,
MI: Christian Classics Ethereal Library,
8.
Christopher J. H.
Wright, The Mission of God, IVP Academic, 2006.
9.
Herman Bavinck,
Reformed Dogmatics, Vol. 2: God and Creation, Baker Academic, 2004.
10.
Charles H.
Spurgeon, The Treasury of David, Vol. II, Hendrickson, 2006.
11.
John Calvin,
Commentary on the Book of Psalms, Vol. II, Baker Academic, 2005.
12.
Derek Kidner,
Psalms 1–72: An Introduction and Commentary, Tyndale Old Testament
Commentaries, IVP, 1973.
[1]
Christopher J. H. Wright, The Mission of God, IVP Academic, 2006.
[2]
Willem A. VanGemeren, Expositor's Bible Commentary: Psalms, Zondervan, 2008,
385.
[3]
Bruce K. Waltke, An Old Testament Theology, Zondervan, 2007, 576.
[4]
Augustinus,
Expositions on the Psalms, Psalm 49 [50 MT], NPNF First Series, Vol. 8
[5]
Yohanes Kristomus, Homilies on
Hebrews,
Homily 17.
[6]
John Goldingay, Psalms, Volume 2: Psalms 42–89, Baker Academic, 2007, 93.
[7]
Derek Kidner, Psalms 1–72, Tyndale Old Testament Commentaries, IVP, 1973, 196
[8]
John Calvin, Commentary on the Book of Psalms, Vol. II, Baker, 2005, pada
Mazmur 50:14.
[9]
Augustinus, Expositions on the Psalms, Psalm 49 [50 MT], NPNF First Series,
Vol. 8.
[10]
Johanes Chrisostomus, Homilies on Hebrews, Homily 19.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar