Setiap keluarga memiliki pusat kehidupan yang menentukan arah dan nilai-nilainya. Bagi sebagian orang, pusat itu adalah pekerjaan; bagi yang lain, mungkin harta, kehormatan, atau kenyamanan. Namun bagi orang percaya sejati, pusat dari kehidupan keluarga seharusnya adalah Tuhan sendiri.
Yosua 24:14–15
Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori n yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN "
Dalam Yosua 24,
kita melihat seorang pemimpin besar yang sudah menua, Yosua- berdiri di hadapan
seluruh bangsa Israel untuk menyampaikan pesan terakhirnya. Setelah memimpin
umat menyeberangi sungai Yordan dan menaklukkan Tanah Perjanjian, ia tidak
berbicara tentang keberhasilan militer atau strategi politik, melainkan tentang
ibadah keluarga dan kesetiaan kepada Tuhan.
Ia berkata dengan
tegas,
“Pilihlah pada hari ini kepada
siapa kamu akan beribadah... tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah
kepada TUHAN.”
Kalimat ini bukan sekadar pernyataan pribadi, melainkan deklarasi rohani dari seorang kepala keluarga yang mengerti bahwa tanggung jawab iman dimulai dari rumah.
Konteks
Teologis: Yosua 24:14–15
Yosua
berbicara kepada Israel setelah mereka menikmati berkat Tuhan—tanah, keamanan,
dan kedamaian. Tetapi ia tahu bahwa berkat tanpa kesetiaan akan berakhir pada
penyimpangan. Karena itu, ia menegaskan: “Takutlah akan Tuhan dan beribadahlah
kepada-Nya dengan ketulusan dan kebenaran” (ayat 14).
Dalam
bahasa Ibrani, kata ʿabad (“melayani” atau “beribadah”) diulang tujuh
kali dalam ayat 14–15 menandakan kepenuhan. Yosua sedang menekankan bahwa pelayanan
kepada Tuhan haruslah total dan eksklusif. Tidak ada tempat bagi dewa-dewa
lain.
3 Hal Penting yang dapat kita
lihat dalam 2 ayat ini, yaitu
1. Iman yang Berakar dalam
Keluarga:
Yosua
tidak hanya menantang bangsa Israel secara umum, tetapi berbicara sebagai
kepala rumah tangga:
“Aku dan seisi rumahku...”
keluarga sering
disebut sebagai ecclesiola in ecclesia “gereja kecil dalam gereja.”
John Calvin menulis bahwa rumah tangga Kristen adalah tempat pertama di mana
Injil diajarkan, iman dibentuk, dan kasih kepada Allah dipraktikkan.
Dengan kata lain, Iman
Yang Sejati Tidak Dimulai Dari Mimbar, Tetapi Dari Meja Makan Keluarga.
2. Ketulusan dan Kebenaran:
Frasa
“melayani Tuhan dengan ketulusan dan kebenaran” (ayat 14) menunjukkan dua
dimensi iman Reformed:
a.
Ketulusan (tamim) menunjuk pada
hati yang utuh, tidak munafik, tidak terbagi antara Allah dan dunia.
b.
Kebenaran (’emet) menekankan
kesetiaan yang nyata - iman yang diekspresikan dalam tindakan, bukan sekadar
kata. Yosua memanggil umat untuk ibadah yang berakar pada kasih karunia dan
diwujudkan dalam kesetiaan hidup.
3. Panggilan untuk Memilih:
Uniknya, di seluruh Perjanjian
Lama, jarang sekali manusia diminta memilih Tuhan — biasanya Tuhanlah
yang memilih umat-Nya. Tetapi di sini, Yosua menegaskan tanggung jawab manusia
untuk meneguhkan pilihan iman mereka. Pilihan itu tidak bisa ditunda atau
dinegosiasi: “Pilihlah pada hari ini.” Dalam perspektif Reformed, ini adalah
panggilan kepada respons iman yang aktif — hasil dari anugerah yang
bekerja dalam hati manusia yang telah diperbarui oleh Roh Kudus.
Makna dan
Aplikasi bagi Keluarga Kristen:
- Keluarga Kristen Dipanggil
Menjadi Teladan Iman.
Dalam dunia yang terus berubah,
di mana nilai-nilai rohani sering dipinggirkan, Tuhan memanggil setiap keluarga
untuk berdiri teguh seperti Yosua.
Teladan iman bukan hanya dalam perkataan, tetapi dalam keputusan hidup
sehari-hari ketika orang tua mengajar anak-anak berdoa, membaca Firman, dan
hidup dalam kasih.
- Iman yang Murni Dimulai
dari Rumah.
Calvin menekankan bahwa kepala
keluarga adalah imam rohani dalam rumah tangganya. Melalui doa,
pembacaan Alkitab, dan teladan hidup, keluarga Kristen menjadi sarana utama
Allah untuk menanamkan iman kepada generasi berikutnya.
- Setia di Tengah Dunia yang
Menyembah “Dewa Modern.”
Dewa-dewa zaman ini tidak lagi
berbentuk patung, tetapi hadir dalam bentuk kesuksesan, hiburan, status, dan
ambisi pribadi. Karena itu, keluarga Kristen harus berani berkata seperti
Yosua:
“Sekalipun dunia
memilih jalan lain, aku dan keluargaku akan tetap beribadah kepada Tuhan.”
Penutup Renungan:
Saudara-saudara,
iman sejati tidak diwariskan secara otomatis ia harus diperjuangkan dan
dipelihara. Seorang ayah atau ibu yang hidup takut akan Tuhan memberi warisan
rohani yang jauh lebih berharga daripada segala harta duniawi.
Kiranya
setiap keluarga di tengah jemaat kita dapat meneladani semangat Yosua menjadi
keluarga yang menaruh Tuhan di pusat kehidupan, yang memilih untuk melayani Dia
dengan tulus dan setia.
Mari kita bertanya kepada diri sendiri hari ini:
“Apakah rumah
tanggaku dikenal sebagai rumah yang beribadah kepada Tuhan?”
Dan dengan iman
yang teguh, marilah kita menyatakan bersama:
“Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar