"Logos veritas Scientia": “Keluarga yang Menjadi Teladan Iman” Yosua 24:14–15

Kamis, 23 Oktober 2025

“Keluarga yang Menjadi Teladan Iman” Yosua 24:14–15




Shalom Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,

Setiap keluarga memiliki pusat kehidupan yang menentukan arah dan nilai-nilainya. Bagi sebagian orang, pusat itu adalah pekerjaan; bagi yang lain, mungkin harta, kehormatan, atau kenyamanan. Namun bagi orang percaya sejati, pusat dari kehidupan keluarga seharusnya adalah Tuhan sendiri.

Yosua 24:14–15

Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN  dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah  yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir,  dan beribadahlah kepada TUHAN. Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori n  yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku,  kami akan beribadah kepada TUHAN " 

Dalam Yosua 24, kita melihat seorang pemimpin besar yang sudah menua, Yosua- berdiri di hadapan seluruh bangsa Israel untuk menyampaikan pesan terakhirnya. Setelah memimpin umat menyeberangi sungai Yordan dan menaklukkan Tanah Perjanjian, ia tidak berbicara tentang keberhasilan militer atau strategi politik, melainkan tentang ibadah keluarga dan kesetiaan kepada Tuhan.

Ia berkata dengan tegas,

“Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah... tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.”

Kalimat ini bukan sekadar pernyataan pribadi, melainkan deklarasi rohani dari seorang kepala keluarga yang mengerti bahwa tanggung jawab iman dimulai dari rumah.

Konteks Teologis: Yosua 24:14–15

Yosua berbicara kepada Israel setelah mereka menikmati berkat Tuhan—tanah, keamanan, dan kedamaian. Tetapi ia tahu bahwa berkat tanpa kesetiaan akan berakhir pada penyimpangan. Karena itu, ia menegaskan: “Takutlah akan Tuhan dan beribadahlah kepada-Nya dengan ketulusan dan kebenaran” (ayat 14).

Dalam bahasa Ibrani, kata ʿabad (“melayani” atau “beribadah”) diulang tujuh kali dalam ayat 14–15 menandakan kepenuhan. Yosua sedang menekankan bahwa pelayanan kepada Tuhan haruslah total dan eksklusif. Tidak ada tempat bagi dewa-dewa lain.

3     Hal Penting yang dapat kita lihat dalam 2 ayat ini, yaitu

1.    Iman yang Berakar dalam Keluarga:

Yosua tidak hanya menantang bangsa Israel secara umum, tetapi berbicara sebagai kepala rumah tangga:

“Aku dan seisi rumahku...”

keluarga sering disebut sebagai ecclesiola in ecclesia “gereja kecil dalam gereja.” John Calvin menulis bahwa rumah tangga Kristen adalah tempat pertama di mana Injil diajarkan, iman dibentuk, dan kasih kepada Allah dipraktikkan.

Dengan kata lain, Iman Yang Sejati Tidak Dimulai Dari Mimbar, Tetapi Dari Meja Makan Keluarga.

2.    Ketulusan dan Kebenaran:

Frasa “melayani Tuhan dengan ketulusan dan kebenaran” (ayat 14) menunjukkan dua dimensi iman Reformed:

a.      Ketulusan (tamim) menunjuk pada hati yang utuh, tidak munafik, tidak terbagi antara Allah dan dunia.

b.     Kebenaran (’emet) menekankan kesetiaan yang nyata - iman yang diekspresikan dalam tindakan, bukan sekadar kata. Yosua memanggil umat untuk ibadah yang berakar pada kasih karunia dan diwujudkan dalam kesetiaan hidup.

3.    Panggilan untuk Memilih:

Uniknya, di seluruh Perjanjian Lama, jarang sekali manusia diminta memilih Tuhan — biasanya Tuhanlah yang memilih umat-Nya. Tetapi di sini, Yosua menegaskan tanggung jawab manusia untuk meneguhkan pilihan iman mereka. Pilihan itu tidak bisa ditunda atau dinegosiasi: “Pilihlah pada hari ini.” Dalam perspektif Reformed, ini adalah panggilan kepada respons iman yang aktif — hasil dari anugerah yang bekerja dalam hati manusia yang telah diperbarui oleh Roh Kudus.

Makna dan Aplikasi bagi Keluarga Kristen:

  1. Keluarga Kristen Dipanggil Menjadi Teladan Iman.

Dalam dunia yang terus berubah, di mana nilai-nilai rohani sering dipinggirkan, Tuhan memanggil setiap keluarga untuk berdiri teguh seperti Yosua.
Teladan iman bukan hanya dalam perkataan, tetapi dalam keputusan hidup sehari-hari ketika orang tua mengajar anak-anak berdoa, membaca Firman, dan hidup dalam kasih.

  1. Iman yang Murni Dimulai dari Rumah.

Calvin menekankan bahwa kepala keluarga adalah imam rohani dalam rumah tangganya. Melalui doa, pembacaan Alkitab, dan teladan hidup, keluarga Kristen menjadi sarana utama Allah untuk menanamkan iman kepada generasi berikutnya.

  1. Setia di Tengah Dunia yang Menyembah “Dewa Modern.”

Dewa-dewa zaman ini tidak lagi berbentuk patung, tetapi hadir dalam bentuk kesuksesan, hiburan, status, dan ambisi pribadi. Karena itu, keluarga Kristen harus berani berkata seperti Yosua:

“Sekalipun dunia memilih jalan lain, aku dan keluargaku akan tetap beribadah kepada Tuhan.”

 Penutup Renungan:

Saudara-saudara, iman sejati tidak diwariskan secara otomatis ia harus diperjuangkan dan dipelihara. Seorang ayah atau ibu yang hidup takut akan Tuhan memberi warisan rohani yang jauh lebih berharga daripada segala harta duniawi.

Kiranya setiap keluarga di tengah jemaat kita dapat meneladani semangat Yosua menjadi keluarga yang menaruh Tuhan di pusat kehidupan, yang memilih untuk melayani Dia dengan tulus dan setia.

 Mari kita bertanya kepada diri sendiri hari ini:

“Apakah rumah tanggaku dikenal sebagai rumah yang beribadah kepada Tuhan?”

Dan dengan iman yang teguh, marilah kita menyatakan bersama:

“Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.”

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Keluarga yang Menjadi Teladan Iman” Yosua 24:14–15

Shalom Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Setiap keluarga memiliki pusat kehidupan yang menentukan arah dan nilai-nilainya. Bagi sebagia...